{"id":16753,"date":"2026-03-31T17:53:49","date_gmt":"2026-03-31T14:53:49","guid":{"rendered":"https:\/\/drelisblog.com\/?p=16753"},"modified":"2026-03-31T17:53:49","modified_gmt":"2026-03-31T14:53:49","slug":"tuhan-adalah-gembalaku","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/tuhan-adalah-gembalaku\/","title":{"rendered":"TUHAN adalah Gembalaku"},"content":{"rendered":"<p>Lembah itu dalam, bayang-bayangnya panjang, dan musuh-musuh mengintai. Namun dari dalam kegelapan itu tidak muncul jeritan keputusasaan, melainkan sebuah pernyataan kepercayaan. Hanya dalam lima puluh lima kata bahasa Ibrani, Mazmur 23 menelusuri seluruh perjalanan hidup\u2014dari ketenangan yang damai, melewati ujian ketakutan, hingga meja kemenangan. Hanya dengan membacanya memang terasa menghibur; tetapi menyelami kedalaman bahasa Ibraninya mengungkap bahwa mazmur ini bukan sekadar nyanyian, melainkan panduan untuk bertahan hidup\u2014sebuah peta penebusan untuk perjalanan melalui kegelapan.<\/p>\n<p><strong>\u201cTUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.\u201d (Mzm. 23:1)<\/strong><\/p>\n<p>Terjemahan <em>ro\u2019i<\/em> sebagai \u201cgembalaku\u201d (\u05e8\u05b9\u05e2\u05b4\u05d9) memang tepat, tetapi kata untuk gembala, ro\u2019i, akan terdengar merdu di telinga orang-orang zaman dahulu. Ia beresonansi dengan kata yang hampir serupa bunyinya, <em>re\u2019i<\/em>\u2014\u201csahabatku\u201d atau \u201ctemanku.\u201d Pendengar tidak hanya menangkap sosok pemimpin, tetapi juga seorang pendamping ilahi yang berjalan bersama. Meskipun secara linguistik berbeda, gema bunyi ini memperkaya gambaran tersebut. Allah bukan sekadar memimpin kawanan dari kejauhan; Ia adalah Sahabat yang berjalan di samping.<\/p>\n<p>Kedekatan ini menjadi inti dari pernyataan pembuka pemazmur: <em>lo ehsar<\/em>\u2014bukan sekadar perasaan kenyang sesaat, melainkan kondisi yang stabil dan berkelanjutan dari kecukupan penuh dengan kehadiran sahabat &#8211;\u00a0 Sang Gembala.<\/p>\n<p><strong>\u201cIa membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang.\u201d (Mzm. 23:2)<\/strong><\/p>\n<p>Damai yang digambarkan di sini bersifat sengaja dan aman. Kata kerja <em>yarbitseini<\/em> (\u05d9\u05b7\u05e8\u05b0\u05d1\u05bc\u05b4\u05d9\u05e6\u05b5\u05e0\u05b4\u05d9), dari akar kata <em>rabats<\/em> (\u05e8\u05b8\u05d1\u05b7\u05e5), melukiskan seekor domba yang berlutut dengan penuh ketenangan. Sang Gembala telah membersihkan tanah itu dari ancaman dengan seksama sehingga kawanan itu dapat melipat kaki mereka dan beristirahat.<\/p>\n<p>Tema istirahat yang mendalam ini diperkuat dalam tujuan akhir: <em>mey mnuhot<\/em> (\u05de\u05b5\u05d9 \u05de\u05b0\u05e0\u05bb\u05d7\u05d5\u05b9\u05ea), yang sering diterjemahkan \u201cair yang tenang,\u201d sebenarnya berarti \u201cair perhentian.\u201d Ini bukan sekadar air untuk menghilangkan haus, tetapi tempat yang menjanjikan penghentian total dari segala jerih lelah\u2014sebuah pendahuluan dari <em>shalom<\/em> yang sempurna.<\/p>\n<p><strong>\u201cIa menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.\u201d (Mzm. 23:3)<\/strong><\/p>\n<p>Kata Ibrani <em>yeshovev<\/em> (\u05d9\u05b0\u05e9\u05c1\u05d5\u05b9\u05d1\u05b5\u05d1) mengandung arti membawa seseorang kembali kepada jati dirinya yang sejati, memulihkan jiwa yang hancur menjadi utuh kembali seperti rancangan semula. Tuntunan di <em>maagley-tsedek<\/em> (\u05de\u05b7\u05e2\u05b0\u05d2\u05bc\u05b0\u05dc\u05b5\u05d9\u05be\u05e6\u05b6\u05d3\u05b6\u05e7)\u2014\u201cjalan yang benar\u201d\u2014mengungkapkan cara Sang Gembala. <em>Maagal<\/em> (\u05de\u05b7\u05e2\u05b0\u05d2\u05bc\u05b8\u05dc) adalah jalur yang mulus karena telah dilalui oleh kendaraan dan kaki-kaki banyak orang yang telah berjalan di jalur ini sebelumnya. Sang Gembala tidak membawa dombanya ke padang liar yang tidak diketahui; Dia menuntun mereka di jalan kuno yang sudah sering dilalui oleh orang-orang beriman, sebuah rute yang terbukti aman selama beberapa generasi. Mengapa Ia melakukan hal ini? <em>Lema\u2019an shemo<\/em> (\u05dc\u05b0\u05de\u05b7\u05e2\u05b7\u05df \u05e9\u05c1\u05b0\u05de\u05d5\u05b9)\u2014demi nama-Nya. Di sinilah konsep <em>Hillul<\/em> dan <em>Kiddush HaShem<\/em> menjadi penting. Reputasi Sang Gembala dipertaruhkan pada keselamatan kawanan-Nya. Jika domba-domba binasa, nama-Nya tercemar (<em>Hillul<\/em>). Tetapi ketika Ia berhasil menuntun mereka dengan selamat, kesetiaan-Nya dibuktikan di hadapan semua, dan nama-Nya dikuduskan (<em>Kiddush HaShem<\/em>) di hadapan semua orang yang menyaksikan perjalanan tersebut.<\/p>\n<p><strong>\u201cSekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.\u201d (Mzm. 23:4)<\/strong><\/p>\n<p>Namun padang hijau bukanlah tujuan akhir\u2014itu hanyalah persiapan. Karena perjalanan dari ketenangan menuju meja kemenangan, tidak dapat dihindarkan, harus melewati lembah. Tiba-tiba suasana berubah dari padang yang indah ke <em>gey tsalmavet<\/em> (\u05d1\u05bc\u05b0\u05d2\u05b5\u05d9\u05d0 \u05e6\u05b7\u05dc\u05b0\u05de\u05b8\u05d5\u05b6\u05ea)\u2014bukan sekadar bayangan, tetapi kegelapan yang pekat dan menekan. Sering diterjemahkan sebagai \u2018lembah bayang-bayang kematian,\u2019 kata Ibrani <em>tsalmavet<\/em> lebih tepat menggambarkan kegelapan yang mendalam dan mencekam\u2014membangkitkan bahaya maut, keputusasaan, atau hal yang tidak diketahui\u2014namun pemazmur melewatinya tanpa rasa takut.<\/p>\n<p>Perhatikan, pemazmur berkata, \u201caku berjalan\u201d (<em>elekh<\/em> \u2013 \u05d0\u05b5\u05dc\u05b5\u05da\u05b0). Sang Gembala tidak menghilangkan lembah itu, dan juga tidak menggendong domba melewatinya. Mereka harus berjalan, dan dalam perjalanan itu mereka harus percaya. Inilah titik teologis utama dari seluruh mazmur. Bahasanya pun berubah\u2014dari berbicara tentang Allah (\u201cIa menuntun\u201d) menjadi berbicara kepada Allah (\u201cEngkau besertaku\u201d). Di tengah kegelapan, kesaksian berubah menjadi doa. Bukti kehadiran-Nya adalah <em>shivtecha<\/em> (\u05e9\u05c1\u05b4\u05d1\u05b0\u05d8\u05b0\u05da\u05b8) dan <em>mishantecha<\/em> (\u05de\u05b4\u05e9\u05c1\u05b0\u05e2\u05b7\u05e0\u05b0\u05ea\u05bc\u05b6\u05da\u05b8)\u2014gada untuk melawan musuh dan tongkat untuk menuntun di tepi jurang. Penghiburan (<em>yenachamuni<\/em> \u2013 \u05d9\u05b0\u05e0\u05b7\u05d7\u05b2\u05de\u05bb\u05e0\u05b4\u05d9) yang mereka berikan adalah kelegaan yang dalam dan nyata, helaan napas jiwa yang tahu bahwa ia tidak sendirian.<\/p>\n<p><strong>\u201cEngkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.\u201d (Mzm. 23:5)<\/strong><\/p>\n<p>Adegan berubah dari lembah penggembalaan ke ruang perjamuan kerajaan. Sang Gembala kini menjadi Tuan Rumah. Dan di mana meja itu disediakan? <em>Neged tzor\u2019rai<\/em> (\u05e0\u05b6\u05d2\u05b6\u05d3 \u05e6\u05b9\u05e8\u05b0\u05e8\u05b8\u05d9)\u2014di hadapan musuh-musuh. Kata musuh <em>tzor\u2019rai<\/em> (\u05e6\u05b9\u05e8\u05b0\u05e8\u05b8\u05d9) berasal dari akar kata yang berarti \u201cmengikat\u201d atau \u201cmengekang.\u201d Maka perjamuan ini adalah pembebasan total. Pengurapan dengan minyak\u2014lambang sukacita, kebebasan, dan kehormatan\u2014adalah lawan kata dari penindasan yang dilakukan oleh musuh. Sang Tuan Rumah membalikkan status para sandera secara terbuka.<\/p>\n<p>Tuan rumah menyediakan kelimpahan tepat di tempat yang dahulu pemazmur merasa terperangkap. Minyak urapan mengalir turun, dan piala yang tidak sekadar penuh, tetapi <em>revayah<\/em> (\u05e8\u05b0\u05d5\u05b8\u05d9\u05b8\u05d4)\u2014meluap hingga berlimpah-limpah. Sang Tuan Rumah secara terbuka menghormati tamu-Nya, mengubah tempat yang dahulu berpotensi menjadi kehinaan kini menjadi panggung pembenaran ilahi di hadapan dunia yang menyaksikan.<\/p>\n<p><strong>\u201cKebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.\u201d (Mzm. 23:6)<\/strong><\/p>\n<p>Mazmur ini dimeteraikan dengan dua kepastian. Kata <em>akh<\/em> (\u05d0\u05b7\u05da\u05b0) meniadakan segala keraguan. Dan yang terjadi adalah pembalikan yang luar biasa. Kata \u201cmengikuti aku\u201d adalah <em>yirdfuni<\/em> (\u05d9\u05b4\u05e8\u05b0\u05d3\u05bc\u05b0\u05e4\u05d5\u05bc\u05e0\u05b4\u05d9)\u2014kata yang sama yang digunakan oleh pemburu untuk pengejar dalam perburuan. Jika di lembah, pemazmur merasa takut karena dikejar kejahatan, kini ia menyatakan bahwa setiap hari ia dikejar oleh dua sahabat setia: <em>tov vahesed<\/em> (\u05d8\u05d5\u05b9\u05d1 \u05d5\u05b8\u05d7\u05b6\u05e1\u05b6\u05d3)\u2014kebaikan Allah dan kasih setia-Nya. Inilah <em>hesed<\/em> yang sama yang mendefinisikan karakter Allah di seluruh Kitab Suci Ibrani.<\/p>\n<p>\u201cAku akan diam\u201d adalah <em>veshavti<\/em> (\u05d5\u05b0\u05e9\u05c1\u05b7\u05d1\u05b0\u05ea\u05bc\u05b4\u05d9), dari akar kata <em>shuv<\/em> (\u05e9\u05c1\u05d5\u05bc\u05d1), yang berarti \u201ckembali\u201d atau \u201cdipulihkan.\u201d Akar kata yang sama muncul dalam \u201cIa menyegarkan\u201d (<em>yeshovev<\/em>, \u05d9\u05b0\u05e9\u05c1\u05d5\u05b9\u05d1\u05b5\u05d1) di ayat 3. Banyak ahli melihat di sini terdapat makna gerakan yang berkelanjutan\u2014\u201caku akan terus kembali dan kembali,\u201d atau \u201caku akan terus tinggal.\u201d Ini bukan sekadar satu kali kedatangan, tetapi kehidupan yang ditandai dengan perjalanan kembali yang terus-menerus ke rumah TUHAN, sebuah pola rutin kembali untuk penyembahan dan pembaruan diri. Jiwa yang dipulihkan di padang rumput, selalu kembali ke sumber utama pemulihan itu. Dengan demikian, perjalanan yang dimulai di padang hijau berakhir bukan hanya di sebuah rumah, tetapi dalam sebuah relasi\u2014siklus kepercayaan, kembali, dan pemulihan. Domba yang percaya kepada Sang Gembala kini duduk sebagai tamu di meja Sang Tuan Rumah, bukan untuk sesaat, tetapi <em>l\u2019orech yamim<\/em> (\u05dc\u05b0\u05d0\u05b9\u05e8\u05b6\u05da\u05b0 \u05d9\u05b8\u05de\u05b4\u05d9\u05dd)\u2014seumur hidup dalam kehidupan yang penuh dan utuh, ditandai dengan ritme terus menerus pulang ke rumah.<\/p>\n<p><strong>Gembala yang Baik<\/strong><\/p>\n<p>Bagi kita yang melihat Yesus sebagai Mesias Israel, pengharapan kuno ini mencapai puncaknya dalam pernyataan-Nya: \u201cAkulah gembala yang baik\u201d (Yoh. 10:11). Yesus (Yeshua) adalah penggenapan nubuat Yehezkiel, di mana Allah berjanji menyelamatkan kawanan-Nya yang tercerai-berai dari gembala-gembala palsu dan mengangkat satu orang gembala atas mereka yaitu &#8211; \u201cDaud, hamba-Ku\u201d (Yeh. 34:11\u201323). Kristus Yahudi adalah Dia yang berjalan melewati lembah kegelapan terdalam menggantikan kita, bukan hanya menuntun domba tetapi juga mengalahkan maut itu sendiri. Di kayu salib, Ia menghadapi musuh sendirian dan menyerahkan nyawa-Nya. Pada hari ketiga, Ia bangkit untuk membuktikan kemenangan-Nya atas kuasa yang ingin menghancurkan kita. Meja di hadapan musuh adalah Perjamuan Terakhir; piala yang melimpah adalah perjanjian baru dalam darah-Nya.<\/p>\n<p><strong>Kesimpulan<\/strong><\/p>\n<p>Dengan demikian, Mazmur 23 bukanlah sebuah lukisan benda mati; itu adalah drama tiga babak: ketenangan, krisis, dan kemuliaan. Pemeliharaan Sang Gembala dibuktikan bukan dengan tidak adanya lembah, tetapi dengan kehadiran-Nya di dalamnya. Janjinya bukan hanya bahwa kita akan bertahan melewati lembah kegelapan yang kelam, tetapi bahwa perjamuan Allah menanti kita. Musuh yang dahulu memburu kita kini hanya menjadi penonton dalam pembenaran kita. Perjalanan yang dimulai dengan seekor domba yang membutuhkan berakhir dengan menjadi seorang tamu yang terhormat. Kemenangan kita bukan hanya keselamatan satu jiwa, tetapi juga pernyataan terbuka tentang kesetiaan Allah yang tak tergoyahkan di hadapan dunia yang menyaksikan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lembah itu dalam, bayang-bayangnya panjang, dan musuh-musuh mengintai. Namun dari dalam kegelapan itu tidak muncul jeritan keputusasaan, melainkan sebuah pernyataan kepercayaan. Hanya dalam lima puluh lima kata bahasa Ibrani, Mazmur 23 menelusuri seluruh perjalanan hidup\u2014dari ketenangan yang damai, melewati ujian ketakutan, hingga meja kemenangan. Hanya dengan membacanya memang terasa menghibur; tetapi menyelami kedalaman bahasa Ibraninya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":179,"featured_media":16372,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"give_campaign_id":0,"footnotes":""},"categories":[529],"tags":[],"class_list":["post-16753","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-alkitab-ibrani"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v26.3 (Yoast SEO v27.5) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>TUHAN adalah Gembalaku - Jewish Studies for Christians<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"noindex, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/drelisblog.com\\\/id\\\/tuhan-adalah-gembalaku\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/drelisblog.com\\\/id\\\/tuhan-adalah-gembalaku\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"Tammy Yu\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/drelisblog.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/65967c618c60ee1a00a667e58a9bf13b\"},\"headline\":\"TUHAN adalah Gembalaku\",\"datePublished\":\"2026-03-31T14:53:49+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/drelisblog.com\\\/id\\\/tuhan-adalah-gembalaku\\\/\"},\"wordCount\":1228,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/drelisblog.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/drelisblog.com\\\/id\\\/tuhan-adalah-gembalaku\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/03\\\/kubki.gif\",\"articleSection\":[\"Alkitab Ibrani\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/drelisblog.com\\\/id\\\/tuhan-adalah-gembalaku\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/drelisblog.com\\\/id\\\/tuhan-adalah-gembalaku\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/drelisblog.com\\\/id\\\/tuhan-adalah-gembalaku\\\/\",\"name\":\"TUHAN adalah Gembalaku - Jewish Studies for Christians\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/drelisblog.com\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/drelisblog.com\\\/id\\\/tuhan-adalah-gembalaku\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/drelisblog.com\\\/id\\\/tuhan-adalah-gembalaku\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/03\\\/kubki.gif\",\"datePublished\":\"2026-03-31T14:53:49+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/drelisblog.com\\\/id\\\/tuhan-adalah-gembalaku\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/drelisblog.com\\\/id\\\/tuhan-adalah-gembalaku\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/drelisblog.com\\\/id\\\/tuhan-adalah-gembalaku\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/03\\\/kubki.gif\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/03\\\/kubki.gif\",\"width\":320,\"height\":242},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/drelisblog.com\\\/id\\\/tuhan-adalah-gembalaku\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/drelisblog.com\\\/id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"TUHAN adalah Gembalaku\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/drelisblog.com\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/drelisblog.com\\\/\",\"name\":\"Dr Eli's Blog\",\"description\":\"\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/drelisblog.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/drelisblog.com\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Person\",\"Organization\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/drelisblog.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98\",\"name\":\"Dr. Eli (Eliyahu) Lizorkin-Girzhel\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/04\\\/logo-scaled.png\",\"url\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/04\\\/logo-scaled.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/04\\\/logo-scaled.png\",\"width\":2560,\"height\":470,\"caption\":\"Dr. Eli (Eliyahu) Lizorkin-Girzhel\"},\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/04\\\/logo-scaled.png\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/drelisblog.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/65967c618c60ee1a00a667e58a9bf13b\",\"name\":\"Tammy Yu\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/a5ca6481910b7994f2527527005a5863e7c45d66c24c8447760cfdca70cd60e7?s=96&d=identicon&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/a5ca6481910b7994f2527527005a5863e7c45d66c24c8447760cfdca70cd60e7?s=96&d=identicon&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/a5ca6481910b7994f2527527005a5863e7c45d66c24c8447760cfdca70cd60e7?s=96&d=identicon&r=g\",\"caption\":\"Tammy Yu\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/id\\\/author\\\/tammyyulianto\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"TUHAN adalah Gembalaku - Jewish Studies for Christians","robots":{"index":"noindex","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/tuhan-adalah-gembalaku\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/tuhan-adalah-gembalaku\/"},"author":{"name":"Tammy Yu","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/65967c618c60ee1a00a667e58a9bf13b"},"headline":"TUHAN adalah Gembalaku","datePublished":"2026-03-31T14:53:49+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/tuhan-adalah-gembalaku\/"},"wordCount":1228,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98"},"image":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/tuhan-adalah-gembalaku\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/kubki.gif","articleSection":["Alkitab Ibrani"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/drelisblog.com\/id\/tuhan-adalah-gembalaku\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/tuhan-adalah-gembalaku\/","url":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/tuhan-adalah-gembalaku\/","name":"TUHAN adalah Gembalaku - Jewish Studies for Christians","isPartOf":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/tuhan-adalah-gembalaku\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/tuhan-adalah-gembalaku\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/kubki.gif","datePublished":"2026-03-31T14:53:49+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/tuhan-adalah-gembalaku\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/drelisblog.com\/id\/tuhan-adalah-gembalaku\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/tuhan-adalah-gembalaku\/#primaryimage","url":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/kubki.gif","contentUrl":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/kubki.gif","width":320,"height":242},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/tuhan-adalah-gembalaku\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"TUHAN adalah Gembalaku"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#website","url":"https:\/\/drelisblog.com\/","name":"Dr Eli's Blog","description":"","publisher":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/drelisblog.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Person","Organization"],"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98","name":"Dr. Eli (Eliyahu) Lizorkin-Girzhel","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/logo-scaled.png","url":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/logo-scaled.png","contentUrl":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/logo-scaled.png","width":2560,"height":470,"caption":"Dr. Eli (Eliyahu) Lizorkin-Girzhel"},"logo":{"@id":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/logo-scaled.png"},"sameAs":["https:\/\/jewishstudiesforchristians.com"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/65967c618c60ee1a00a667e58a9bf13b","name":"Tammy Yu","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a5ca6481910b7994f2527527005a5863e7c45d66c24c8447760cfdca70cd60e7?s=96&d=identicon&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a5ca6481910b7994f2527527005a5863e7c45d66c24c8447760cfdca70cd60e7?s=96&d=identicon&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a5ca6481910b7994f2527527005a5863e7c45d66c24c8447760cfdca70cd60e7?s=96&d=identicon&r=g","caption":"Tammy Yu"},"url":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/author\/tammyyulianto\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16753","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/179"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=16753"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16753\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/16372"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=16753"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=16753"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=16753"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}