{"id":17589,"date":"2026-05-01T17:56:09","date_gmt":"2026-05-01T14:56:09","guid":{"rendered":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/?p=17589"},"modified":"2026-05-01T17:56:09","modified_gmt":"2026-05-01T14:56:09","slug":"meneliti-kedalaman-dan-devosi-doa-orang-yahudi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/meneliti-kedalaman-dan-devosi-doa-orang-yahudi\/","title":{"rendered":"Meneliti Kedalaman dan Devosi Doa Orang Yahudi"},"content":{"rendered":"<p>Doa orang Yahudi adalah denyut nadi Yudaisme, sebuah kedisiplinan yang membentuk hubungan seorang penyembah dengan Allah melalui persekutuan yang dilakukan setiap hari. Di antara banyak doa dalam liturgi Yahudi, <em>Amida<\/em> Adalah yang paling penting. Namanya berasal dari kata Ibrani yang berarti \u201cberdiri,\u201d mencerminkan sikap penyembah yang memasuki hadirat Sang Raja Surgawi yang \u201cduduk di tahta.\u201d Gambaran ini membangkitkan rasa takjub: Allah, Penguasa alam semesta, memberi kesempatan kepada orang percaya yang rendah hati untuk datang menghadap-Nya. Bagi orang Kristen, hal ini selaras dengan ajakan Perjanjian Baru untuk \u201cmenghampiri tahta kasih karunia dengan penuh keberanian\u201d (Ibrani 4:16), suatu hak istimewa yang hanya mungkin didapatkan melalui Kristus, tetapi berakar dari jalur perjanjian yang dirayakan dalam <em>Amida<\/em>.<\/p>\n<p><em>Amida<\/em> didoakan tiga kali sehari\u2014pagi (<em>Shacharit<\/em>), siang (<em>Mincha<\/em>), dan malam (<em>Maariv<\/em>)\u2014yang melambangkan hubungan yang terus-menerus dengan Allah. Doa ini terdiri dari 19 berkat (atau 18 dalam beberapa tradisi), mencakup pujian, permohonan, dan ucapan syukur, yang merangkai kebutuhan pribadi dan komunitas dengan pernyataan teologis. Bagi orang Kristen, mempelajari <em>Amida<\/em> memperoleh cara berdoa yang terstruktur namun sepenuh hati, selaras dengan praktik yang dilakukan oleh Yesus sendiri sebagai seorang Yahudi yang tampaknya berdoa dengan cara ini atau dalam bentuk yang lebih awal. Dengan mengeksplorasi <em>Amida<\/em>, orang Kristen dapat menemukan kembali akar iman mereka dalam iman tradisi Israel, sekaligus menghargai bagaimana Kristus menggenapi janji-janjinya.<\/p>\n<p><strong>Persiapan Akhir: Mendekati Hadirat Allah<\/strong><\/p>\n<p>Sebelum memasuki <em>Amida<\/em>, penyembah mengucapkan ayat persiapan dari Mazmur 51:17:<\/p>\n<p style=\"text-align: right;\">\u05d0\u05b2\u05d3\u05b9\u05e0\u05b8\u05d9 \u05e9\u05b0\u05c2\u05e4\u05b8\u05ea\u05b7\u05d9 \u05ea\u05b4\u05bc\u05e4\u05b0\u05ea\u05b8\u05bc\u05d7 \u05d5\u05bc\u05e4\u05b4\u05d9 \u05d9\u05b7\u05d2\u05b4\u05bc\u05d9\u05d3 \u05ea\u05b0\u05bc\u05d4\u05b4\u05dc\u05b8\u05bc\u05ea\u05b6\u05da\u05b8<br \/>\n(<em>Adonai sfatai tiftach ufi yagid tehilatecha.<\/em>)<\/p>\n<p>\u201cYa Tuhan, bukalah bibirku, supaya mulutku memberitakan puji-pujian kepada-Mu.\u201d<\/p>\n<p>Permohonan yang sederhana namun mendalam ini mengakui keterbatasan manusia di hadapan kemuliaan Allah. Penyembah menyadari bahwa bahkan untuk memuji Allah pun membutuhkan pertolongan-Nya. Bagi orang Kristen, ini mengingatkan kerendahan hati untuk mendekati Allah melalui Kristus, yang membuka jalan kepada Bapa (Yohanes 14:6). Ayat ini juga mengajak sikap untuk bergantung, mengingatkan orang percaya bahwa doa yang sejati mengalir dari kasih karunia Allah. Secara praktis, orang Kristen dapat menggunakan ayat ini sebagai pembuka doa mereka, membangun sikap penyerahan diri dan kesiapan untuk berjumpa dengan Allah.<\/p>\n<p><strong>Pembukaan <em>Amida<\/em><\/strong><\/p>\n<p><em>Amida<\/em> dimulai dengan berkat pertama yang dikenal sebagai <em>Avot<\/em> (\u201cPara Bapa\u201d), yang menegaskan hubungan perjanjian antara penyembah dengan Allah:<\/p>\n<p style=\"text-align: right;\">\u05d1\u05b8\u05bc\u05e8\u05d5\u05bc\u05da\u05b0 \u05d0\u05b7\u05ea\u05b8\u05bc\u05d4 \u05d9\u05b0\u05d4\u05d5\u05b8\u05d4 \u05d0\u05b1\u05dc\u05b9\u05d4\u05b5\u05d9\u05e0\u05d5\u05bc \u05d5\u05b5\u05d0\u05dc\u05b9\u05d4\u05b5\u05d9 \u05d0\u05b2\u05d1\u05d5\u05b9\u05ea\u05b5\u05d9\u05e0\u05d5\u05bc, \u05d0\u05b1\u05dc\u05b9\u05d4\u05b5\u05d9 \u05d0\u05b7\u05d1\u05b0\u05e8\u05b8\u05d4\u05b8\u05dd, \u05d0\u05b1\u05dc\u05b9\u05d4\u05b5\u05d9 \u05d9\u05b4\u05e6\u05b0\u05d7\u05b8\u05e7, \u05d5\u05b5\u05d0\u05dc\u05b9\u05d4\u05b5\u05d9 \u05d9\u05b7\u05e2\u05b2\u05e7\u05b9\u05d1<br \/>\n(<em>Baruch ata Adonai Eloheinu v\u2019Elohei avoteinu, Elohei Avraham, Elohei Yitzchak, v\u2019Elohei Yaakov<\/em>)<\/p>\n<p>\u201cTerpujilah Engkau, ya TUHAN, Allah kami dan Allah nenek moyang kami, Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub.\u201d<\/p>\n<p>Berbeda dengan formula berkat Yahudi yang umum (\u201cTerpujilah Engkau, ya TUHAN, Allah kami, Raja semesta alam\u201d), pembukaan ini menekankan Allah sebagai Allah para leluhur. Pilihan ini sengaja untuk menekankan hubungan keluarga antara penyembah dengan Abraham, Ishak, dan Yakub, menegaskan hak perjanjian untuk menghadap Allah. Bagi orang Kristen, ini menjadi pengingat yang kuat bahwa mereka masuk dalam perjanjian melalui Kristus, \u201cketurunan Abraham\u201d (Galatia 3:29). Dengan mendoakan berkat ini, orang Kristen menegaskan warisan rohani mereka yang dicangkokkan ke dalam janji-janji Allah yang diberikan kepada bangsa Israel (Roma 11:17\u201318).<\/p>\n<p>Berkat ini dilanjutkan:<\/p>\n<p style=\"text-align: right;\">\u05d4\u05b8\u05d0\u05b5\u05dc \u05d4\u05b7\u05d2\u05b8\u05bc\u05d3\u05d5\u05b9\u05dc \u05d4\u05b7\u05d2\u05b4\u05bc\u05d1\u05bc\u05d5\u05b9\u05e8 \u05d5\u05b0\u05d4\u05b7\u05e0\u05bc\u05d5\u05b9\u05e8\u05b8\u05d0, \u05d0\u05b5\u05dc \u05e2\u05b6\u05dc\u05b0\u05d9\u05d5\u05b9\u05df<br \/>\n(<em>Ha\u2019El hagadol, hagibor, v\u2019hanora, El Elyon<\/em>)<\/p>\n<p>\u201cAllah yang besar, yang perkasa, dan yang dahsyat, Allah Yang Mahatinggi.\u201d<\/p>\n<p>Deskripsi ini bukan sekadar puisi, melainkan fondasi teologis. Artikel \u2018tertentu\u2019 dalam bahasa Ibrani (<em>ha<\/em>) dalam <em>ha\u2019El hagadol<\/em> (\u201cAllah yang besar\u201d) membedakan Allah Israel dari illah-illah lain dalam kosmologi kuno, menegaskan supremasi-Nya sebagai <em>El Elyon<\/em> (\u201cAllah Yang Mahatinggi\u201d). Istilah <em>hagibor<\/em> (\u201cYang Maha Perkasa\u201d atau \u201cAllah Pejuang\u201d) dan <em>hanora<\/em> (\u201cYang Maha Dahsyat\u201d atau \u201cAllah yang Menakutkan\u201d) menggambarkan sosok Tuhan yang perkasa dan mengagumkan. Bagi orang Kristen, ini sejalan dengan gambaran Allah sebagai Raja yang menang dalam kitab Wahyu (19:11\u201316) dan Dia yang layak ditakuti dengan hormat (Ibrani 12:28\u201329). Mendoakan kata-kata ini mengajak penyembah untuk memuliakan Allah yang bersifat transenden dan terlibat secara mendalam dalam kehidupan mereka.<\/p>\n<p>Berkat ini juga menyatakan bahwa Allah:<\/p>\n<p style=\"text-align: right;\">\u05d2\u05bc\u05d5\u05b9\u05de\u05b5\u05dc \u05d7\u05b2\u05e1\u05b8\u05d3\u05b4\u05d9\u05dd \u05d8\u05d5\u05b9\u05d1\u05b4\u05d9\u05dd \u05d5\u05b0\u05e7\u05d5\u05b9\u05e0\u05b5\u05d4 \u05d4\u05b7\u05db\u05bc\u05b9\u05dc<br \/>\n(<em>Gomel chasadim tovim v\u2019koneh hakol<\/em>)<\/p>\n<p>\u201cYang melimpahkan kasih setia dan kebaikan, dan pemilik segala sesuatu.\u201d<\/p>\n<p>Di sini, Allah dinyatakan sebagai sumber <em>chesed<\/em> (kasih setia perjanjian), Bapa yang memelihara umat-Nya dengan penuh kasih. Frasa <em>koneh hakol<\/em> (\u201cPemilik segala sesuatu\u201d) menegaskan kedaulatan-Nya atas ciptaan. Keseimbangan antara Allah sebagai Raja dan Bapa\u2014<em>Avinu Malkenu<\/em> (\u201cBapa kami, Raja kami\u201d)\u2014merupakan inti dari teologi Yahudi dan sangat selaras dengan iman Kristen. Yesus sendiri mengajarkan murid-muridNya untuk berdoa, \u201cBapa kami yang di sorga\u201d (Matius 6:9), yang mencerminkan hubungan ganda ini. Orang Kristen dapat menggunakan bahasa ini ke dalam doa mereka, mengakui otoritas dan kasih Allah.<\/p>\n<p>Berkat ini ditutup dengan:<\/p>\n<p style=\"text-align: right;\">\u05d5\u05b0\u05d6\u05d5\u05b9\u05db\u05b5\u05e8 \u05d7\u05b7\u05e1\u05b0\u05d3\u05b5\u05d9 \u05d0\u05b8\u05d1\u05d5\u05b9\u05ea \u05d5\u05bc\u05de\u05b5\u05d1\u05b4\u05d9\u05d0 \u05d2\u05d5\u05b9\u05d0\u05b5\u05dc \u05dc\u05b4\u05d1\u05b0\u05e0\u05b5\u05d9 \u05d1\u05b0\u05e0\u05b5\u05d9\u05d4\u05b6\u05dd \u05dc\u05b0\u05de\u05b7\u05e2\u05b7\u05df \u05e9\u05b0\u05c1\u05de\u05d5\u05b9 \u05d1\u05b0\u05bc\u05d0\u05b7\u05d4\u05b2\u05d1\u05b8\u05d4. \u05de\u05b6\u05dc\u05b6\u05da\u05b0 \u05e2\u05d5\u05b9\u05d6\u05b5\u05e8 \u05d5\u05bc\u05de\u05d5\u05b9\u05e9\u05b4\u05c1\u05d9\u05e2\u05b7 \u05d5\u05bc\u05de\u05b8\u05d2\u05b5\u05df. \u05d1\u05b8\u05bc\u05e8\u05d5\u05bc\u05da\u05b0 \u05d0\u05b7\u05ea\u05b8\u05bc\u05d4 \u05d9\u05b0\u05d4\u05d5\u05b8\u05d4, \u05de\u05b8\u05d2\u05b5\u05df \u05d0\u05b7\u05d1\u05b0\u05e8\u05b8\u05d4\u05b8\u05dd<br \/>\n(<em>V\u2019zocher chasdei avot u\u2019mevi go\u2019el livnei v\u2019neihem l\u2019ma\u2019an shmo b\u2019ahava. Melech, ozer, u\u2019moshia, u\u2019magen. Baruch ata Adonai, magen Avraham.<\/em>)<\/p>\n<p>\u201cYang mengingat kasih setia para leluhur dan mendatangkan seorang penebus bagi keturunan mereka, dengan kasih dan oleh karena nama-Nya. Raja, Penolong, Juruselamat, dan Perisai. Terpujilah Engkau, ya TUHAN, Perisai Abraham.\u201d<\/p>\n<p>Bagian ini memperkenalkan konsep \u201cjasa para leluhur,\u201d yaitu gagasan bahwa perjanjian Allah dengan bangsa Israel berakar pada kesetiaan Abraham, Ishak, dan Yakub. Tindakan ketaatan mereka\u2014seperti kesediaan Abraham mempersembahkan Ishak (<em>Akedah<\/em>, Kejadian 22)\u2014dipandang membawa manfaat bagi generasi berikutnya. Bagi orang Kristen, konsep ini digenapi \u00a0dalam diri Kristus, melalui ketaatan-Nya yang sempurna di kayu salib sehingga membawa penebusan bagi semua orang (Roma 5:19). Rujukan <em>Amida<\/em> kepada \u201cpenebus\u201d (<em>go\u2019el<\/em>) dapat dipahami merujuk kepada Yesus, Mesias yang menebus umat manusia. Dengan mendoakan berkat ini, orang Kristen dapat merayakan perjanjian sejarah sekaligus penggenapannya dalam Mesias.<\/p>\n<p>Bait terakhir\u2014<em>Melech, ozer, u\u2019moshia, u\u2019magen<\/em> (\u201cRaja, Penolong, Juruselamat, dan Perisai\u201d)\u2014merangkum relasi Allah dengan umat-Nya. Sebagai <em>Melech<\/em> (Raja), Allah berdaulat dan layak ditaati. Sebagai <em>Ozer<\/em> (Penolong), Ia campur tangan dengan setia, seperti saat Abraham menyelamatkan Lot (Kejadian 14). Sebagai <em>Moshia<\/em> (Juruselamat), Ia membebaskan umat-Nya dari bahaya, seperti yang dilakukanNya untuk para leluhur. Sebagai <em>Magen<\/em> (Perisai), Ia melindungi, seperti janji-Nya kepada Abraham (Kejadian 15:1). Gelar \u201cPerisai Abraham\u201d bermakna perlindungan perjanjian Allah, sebuah janji yang juga berlaku bagi semua yang percaya kepada-Nya melalui Kristus.<\/p>\n<p><strong>Aplikasi Praktis bagi Orang Kristen<\/strong><\/p>\n<p>Bagi orang Kristen, menerapkan <em>Amida<\/em> dalam kehidupan doa mereka dapat membawa perubahan yang besar. Berikut beberapa langkah praktis untuk memulai:<\/p>\n<ul>\n<li>Gunakan ayat pembuka\/persiapan: Mulaikan doamu dengan \u201cYa Tuhan, bukalah bibirku supaya mulutku memberitakan puji-pujian kepada-Mu.\u201d, Hal ini membangun sikap rendah hati dan ketergantungan pada kasih karunia Tuhan.<\/li>\n<li>Doakan berkat pertama: Hafalkan atau baca berkat <em>Avot<\/em>, berfokus pada Allah sebagai Allah Abraham, Ishak, dan Yakub. Renungkan bagaimana Kristus menghubungkan Anda ke dalam perjanjian ini. Anda dapat berdoa, \u201cTerpujilah Engkau, Tuhan Allah kami, Allah nenek moyang kami, yang mengingat janji-janji-Mu dan mengutus Putra-Mu sebagai Penebus kami.\u201d<\/li>\n<li>Hidupi Relasi Perjanjian: Gunakan bahasa <em>Amida<\/em> untuk menegaskan bahwa Allah adalah Bapa dan Raja. Misalnya, berdoalah, \u201cBapa Surgawi, Engkau adalah Rajaku yang menolong, menyelamatkan, dan melindungiku. Terima kasih atas kasih setia-Mu.\u201d<\/li>\n<\/ul>\n<ul>\n<li>Renungkanlah Karya Kristus: Saat Anda berdoa agar Tuhan mengingat &#8220;perbuatan baik para bapa leluhur,&#8221; ingatlah bagaimana ketaatan Kristus yang sempurna menggenapi gagasan ini. Bersyukurlah kepada Tuhan atas karya penebusan Yesus, yang memberikan tempat bagi Anda dalam perjanjian.<\/li>\n<li>Berdoalah dengan kesungguhan: <em>Amida<\/em> dipanjatkan sambil berdiri, menghadap Yerusalem, dengan fokus dan penuh hormat. Gunakanlah sikap yang sama dalam doa Anda, mungkin berdiri atau berlutut, untuk menunjukkan keseriusan memasuki hadirat Allah.<\/li>\n<li>Ikuti ritme Yahudi: Berdoalah tiga kali sehari, meskipun singkat, untuk meniru praktik orang Yahudi. Ini bisa berupa doa pujian di pagi hari, permohonan di siang hari, dan ucapan syukur di malam hari.<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>Hubungan Teologis<\/strong><\/p>\n<p><em>Amida<\/em> menjembatani teologi Yahudi dan Kristen secara mendalam. Penekanannya pada perjanjian sejalan dengan gambaran Perjanjian Baru tentang orang percaya sebagai ahli waris janji Abraham (Galatia 3:14). Sapaan langsung kepada Allah dengan kata \u2018Engkau\u201d mencerminkan keintiman doa Yesus (Yohanes 17). Konsep \u201cjasa para leluhur\u201d merujuk ke karya penebusan Kristus, menunjukkan kesinambungan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Selain itu, keseimbangan antara rasa hormat dan keintiman dalam <em>Amida<\/em> menantang orang Kristen untuk mendekati Allah dengan takut sekaligus yakin, sebagaimana terlihat dalam Doa Bapa Kami.<\/p>\n<p><strong>Kesimpulan<\/strong><\/p>\n<p><em>Amida<\/em> bukan sekadar doa, melainkan sebuah perjalanan spiritual memasuki hadirat Allah, berakar dalam perjanjian dengan Israel dan digenapi dalam Kristus. Bagi orang Kristen, mempraktikkan <em>Amida<\/em> membuka kesempatan untuk memperdalam kehidupan doa, kembali terhubung dengan akar iman Yahudi, dan merayakan Mesias yang menggenapi perjanjian itu sampai puncaknya. Dengan mendoakan berkat pertama <em>Amida,<\/em> orang percaya dapat menegaskan kebesaran, kesetiaan, dan perlindungan Allah, sambil berdiri teguh sebagai anak-anak Abraham melalui iman kepada Yesus. Kiranya melalui praktik ini, doa Anda menjadi dialog yang hidup dengan Allah\u2014Raja dan Bapa, Penolong dan Perisai\u2014 selama-lamanya layak dipuji.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Doa orang Yahudi adalah denyut nadi Yudaisme, sebuah kedisiplinan yang membentuk hubungan seorang penyembah dengan Allah melalui persekutuan yang dilakukan setiap hari. Di antara banyak doa dalam liturgi Yahudi, Amida Adalah yang paling penting. Namanya berasal dari kata Ibrani yang berarti \u201cberdiri,\u201d mencerminkan sikap penyembah yang memasuki hadirat Sang Raja Surgawi yang \u201cduduk di tahta.\u201d [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":179,"featured_media":12904,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"give_campaign_id":0,"footnotes":""},"categories":[422],"tags":[],"class_list":["post-17589","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-prayer-id"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v26.3 (Yoast SEO v27.5) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Meneliti Kedalaman dan Devosi Doa Orang Yahudi - Jewish Studies for Christians<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"noindex, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/id\\\/meneliti-kedalaman-dan-devosi-doa-orang-yahudi\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/id\\\/meneliti-kedalaman-dan-devosi-doa-orang-yahudi\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"Tammy Yu\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/drelisblog.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/65967c618c60ee1a00a667e58a9bf13b\"},\"headline\":\"Meneliti Kedalaman dan Devosi Doa Orang Yahudi\",\"datePublished\":\"2026-05-01T14:56:09+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/id\\\/meneliti-kedalaman-dan-devosi-doa-orang-yahudi\\\/\"},\"wordCount\":1338,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/drelisblog.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/id\\\/meneliti-kedalaman-dan-devosi-doa-orang-yahudi\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/05\\\/angpaer.gif\",\"articleSection\":[\"Doa\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/id\\\/meneliti-kedalaman-dan-devosi-doa-orang-yahudi\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/id\\\/meneliti-kedalaman-dan-devosi-doa-orang-yahudi\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/id\\\/meneliti-kedalaman-dan-devosi-doa-orang-yahudi\\\/\",\"name\":\"Meneliti Kedalaman dan Devosi Doa Orang Yahudi - Jewish Studies for Christians\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/drelisblog.com\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/id\\\/meneliti-kedalaman-dan-devosi-doa-orang-yahudi\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/id\\\/meneliti-kedalaman-dan-devosi-doa-orang-yahudi\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/05\\\/angpaer.gif\",\"datePublished\":\"2026-05-01T14:56:09+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/id\\\/meneliti-kedalaman-dan-devosi-doa-orang-yahudi\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/id\\\/meneliti-kedalaman-dan-devosi-doa-orang-yahudi\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/id\\\/meneliti-kedalaman-dan-devosi-doa-orang-yahudi\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/05\\\/angpaer.gif\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/05\\\/angpaer.gif\",\"width\":320,\"height\":242},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/id\\\/meneliti-kedalaman-dan-devosi-doa-orang-yahudi\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/drelisblog.com\\\/id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Meneliti Kedalaman dan Devosi Doa Orang Yahudi\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/drelisblog.com\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/drelisblog.com\\\/\",\"name\":\"Dr Eli's Blog\",\"description\":\"\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/drelisblog.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/drelisblog.com\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Person\",\"Organization\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/drelisblog.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98\",\"name\":\"Dr. Eli (Eliyahu) Lizorkin-Girzhel\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/04\\\/logo-scaled.png\",\"url\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/04\\\/logo-scaled.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/04\\\/logo-scaled.png\",\"width\":2560,\"height\":470,\"caption\":\"Dr. Eli (Eliyahu) Lizorkin-Girzhel\"},\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/04\\\/logo-scaled.png\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/drelisblog.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/65967c618c60ee1a00a667e58a9bf13b\",\"name\":\"Tammy Yu\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/a5ca6481910b7994f2527527005a5863e7c45d66c24c8447760cfdca70cd60e7?s=96&d=identicon&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/a5ca6481910b7994f2527527005a5863e7c45d66c24c8447760cfdca70cd60e7?s=96&d=identicon&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/a5ca6481910b7994f2527527005a5863e7c45d66c24c8447760cfdca70cd60e7?s=96&d=identicon&r=g\",\"caption\":\"Tammy Yu\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/id\\\/author\\\/tammyyulianto\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Meneliti Kedalaman dan Devosi Doa Orang Yahudi - Jewish Studies for Christians","robots":{"index":"noindex","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/meneliti-kedalaman-dan-devosi-doa-orang-yahudi\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/meneliti-kedalaman-dan-devosi-doa-orang-yahudi\/"},"author":{"name":"Tammy Yu","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/65967c618c60ee1a00a667e58a9bf13b"},"headline":"Meneliti Kedalaman dan Devosi Doa Orang Yahudi","datePublished":"2026-05-01T14:56:09+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/meneliti-kedalaman-dan-devosi-doa-orang-yahudi\/"},"wordCount":1338,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98"},"image":{"@id":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/meneliti-kedalaman-dan-devosi-doa-orang-yahudi\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/angpaer.gif","articleSection":["Doa"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/meneliti-kedalaman-dan-devosi-doa-orang-yahudi\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/meneliti-kedalaman-dan-devosi-doa-orang-yahudi\/","url":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/meneliti-kedalaman-dan-devosi-doa-orang-yahudi\/","name":"Meneliti Kedalaman dan Devosi Doa Orang Yahudi - Jewish Studies for Christians","isPartOf":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/meneliti-kedalaman-dan-devosi-doa-orang-yahudi\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/meneliti-kedalaman-dan-devosi-doa-orang-yahudi\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/angpaer.gif","datePublished":"2026-05-01T14:56:09+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/meneliti-kedalaman-dan-devosi-doa-orang-yahudi\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/meneliti-kedalaman-dan-devosi-doa-orang-yahudi\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/meneliti-kedalaman-dan-devosi-doa-orang-yahudi\/#primaryimage","url":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/angpaer.gif","contentUrl":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/angpaer.gif","width":320,"height":242},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/meneliti-kedalaman-dan-devosi-doa-orang-yahudi\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Meneliti Kedalaman dan Devosi Doa Orang Yahudi"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#website","url":"https:\/\/drelisblog.com\/","name":"Dr Eli's Blog","description":"","publisher":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/drelisblog.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Person","Organization"],"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98","name":"Dr. Eli (Eliyahu) Lizorkin-Girzhel","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/logo-scaled.png","url":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/logo-scaled.png","contentUrl":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/logo-scaled.png","width":2560,"height":470,"caption":"Dr. Eli (Eliyahu) Lizorkin-Girzhel"},"logo":{"@id":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/logo-scaled.png"},"sameAs":["https:\/\/jewishstudiesforchristians.com"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/65967c618c60ee1a00a667e58a9bf13b","name":"Tammy Yu","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a5ca6481910b7994f2527527005a5863e7c45d66c24c8447760cfdca70cd60e7?s=96&d=identicon&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a5ca6481910b7994f2527527005a5863e7c45d66c24c8447760cfdca70cd60e7?s=96&d=identicon&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a5ca6481910b7994f2527527005a5863e7c45d66c24c8447760cfdca70cd60e7?s=96&d=identicon&r=g","caption":"Tammy Yu"},"url":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/author\/tammyyulianto\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17589","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/179"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=17589"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17589\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12904"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=17589"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=17589"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=17589"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}