{"id":18051,"date":"2026-05-17T17:56:52","date_gmt":"2026-05-17T14:56:52","guid":{"rendered":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/?p=18051"},"modified":"2026-05-17T17:56:52","modified_gmt":"2026-05-17T14:56:52","slug":"doa-bapa-kami-dalam-tradisi-yahudi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/doa-bapa-kami-dalam-tradisi-yahudi\/","title":{"rendered":"Doa Bapa Kami dalam Tradisi Yahudi"},"content":{"rendered":"<p>Doa \u201cBapa Kami,\u201d yang juga dikenal sebagai Doa Tuhan, adalah salah satu doa paling legendaris dan dihargai dalam kekristenan, dibaca oleh jutaan orang dari berbagai denominasi dan budaya. Kata-katanya, yang terdapat dalam Matius 6:9\u201313 dan Lukas 11:2\u20134, memancarkan kesederhanaan yang mendalam sekaligus kedalaman teologis. Namun, di balik peran utamanya dalam ibadah Kristen, banyak orang mungkin terkejut mengetahui bahwa Doa \u201cBapa Kami\u201d berakar pada pola doa dan tema teologis yang sudah dikenal dalam tradisi Yahudi. Dengan menelusuri kesamaan konsep dan linguistiknya dengan doa-doa Yahudi, kita menemukan suatu jalinan spiritualitas yang kaya yang menjembatani kekristenan dan Yudaisme. Penjabaran ini tidak hanya menyingkap asal-usul doa tersebut, tetapi juga mengajak kita untuk menghargai hubungan yang mendalam antara kedua iman ini.<\/p>\n<p><strong>Doa \u201cBapa Kami\u201d dan Inti Teologisnya<\/strong><\/p>\n<p>Doa \u201cBapa Kami\u201d adalah doa yang singkat namun menyeluruh, merangkum tema-tema utama teologi Kristen: kedaulatan Allah, pemeliharaan, pengampunan, dan perlindungan. Teksnya dalam Matius 6:9\u201313 berbunyi:<\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\">\u201cBapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.\u201d (Mat. 6:9\u201313, TB)<\/p>\n<p>Pada inti doa ini terdapat dua gambaran utama tentang Allah: sebagai Bapa dan sebagai Raja. Peran ganda ini\u2014Allah sebagai Bapa yang penuh kasih dan sebagai penguasa yang berdaulat\u2014membentuk seluruh permohonan doa ini: tuntunan, pemeliharaan, pengampunan, dan pelepasan. Kerangka teologis ini tidak hanya terdapat dalam kekristenan saja, melainkan memiliki paralel yang kuat dalam liturgi Yahudi, khususnya dalam konsep <em>Avinu Malkeinu<\/em> (\u05d0\u05b8\u05d1\u05b4\u05d9\u05e0\u05d5\u05bc \u05de\u05b7\u05dc\u05b0\u05db\u05b5\u05bc\u05e0\u05d5\u05bc \u2014 \u201cBapa kami, Raja kami\u201d). Frase ini menjadi inti doa Yahudi, terutama selama Hari Raya <em>Rosh Hashanah<\/em> dan <em>Yom Kippur<\/em>, menyatakan peran ganda yang sama antara pemeliharaan Allah dan otoritas agung-Nya.<\/p>\n<p><strong><em>Avinu Malkeinu<\/em>: Konsep yang Paralel<\/strong><\/p>\n<p>Frase \u201c<em>Avinu Malkeinu<\/em>\u201d bukan sekadar judul puitis, melainkan sebuah pilar teologis dalam liturgi Yahudi. Frase ini muncul dalam serangkaian doa permohonan yang dibacakan selama Hari Raya Besar di mana umat secara bersama-sama menyatakan Allah sebagai Bapa yang penuh belas kasih sekaligus Raja yang adil. Doa-doa <em>Avinu Malkeinu <\/em>mencakup permohonan pengampunan, perlindungan, berkat, dan pengudusan nama Tuhan\u2014permintaan yang mencerminkan struktur dan isi dari &#8220;Doa Bapa Kami.&#8221;<\/p>\n<p>Misalnya, satu baris dari doa <em>Avinu Malkeinu<\/em> berbunyi:<\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\">\u201c<em>Avinu Malkeinu, selach u-mechal l\u2019chol avonoteinu<\/em>.\u201d (\u05d0\u05b8\u05d1\u05b4\u05d9\u05e0\u05d5\u05bc \u05de\u05b7\u05dc\u05b0\u05db\u05b5\u05bc\u05e0\u05d5\u05bc \u05e1\u05b0\u05dc\u05b7\u05d7 \u05d5\u05bc\u05de\u05b0\u05d7\u05b7\u05dc \u05dc\u05b0\u05db\u05b8\u05dc \u05d7\u05b7\u05d8\u05b9\u05bc\u05d0\u05ea\u05b5\u05d9\u05e0\u05d5\u05bc)<br \/>\n\u201cBapa kami, Raja kami, ampunilah dan hapuskanlah segala dosa kami.\u201d<\/p>\n<p>Permohonan untuk pengampunan ini sangat mirip dengan bagian dalam \u201cDoa Bapa Kami\u201d: \u201cdan ampunilah kami akan kesalahan kami\u2026\u201d Kedua doa ini sama-sama mengakui kelemahan manusia dan memohon belas kasihan Allah, serta menekankan hubungan timbal balik antara pengampunan Allah dan pengampunan manusia kepada sesama. Demikian pula, <em>Avinu Malkeinu<\/em> mencakup permohonan untuk rezeki dan perlindungan, seperti<\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\">\u201c<em>Avinu Malkeinu, zochreinu l\u2019chayim<\/em>\u201d (\u05d0\u05b8\u05d1\u05b4\u05d9\u05e0\u05d5\u05bc \u05de\u05b7\u05dc\u05b0\u05db\u05b5\u05bc\u05e0\u05d5\u05bc \u05d6\u05b8\u05db\u05b0\u05e8\u05b5\u05e0\u05d5\u05bc \u05dc\u05b0\u05d7\u05b7\u05d9\u05b4\u05bc\u05d9\u05dd)<br \/>\n\u201cBapa kami, Raja kami, ingatlah kami untuk kehidupan.\u201d<\/p>\n<p>Ini sama dengan permohonan dalam doa \u201cBapa Kami\u201d untuk \u201cmakanan yang secukupnya\u201d dan pembebasan dari yang jahat, menunjukkan ketergantungan yang sama kepada pemeliharaan dan perlindungan Allah. Penyebutan ganda, <em>Avinu<\/em> (Bapa) dan <em>Malkeinu<\/em> (Raja) dalam liturgi Yahudi sejalan dengan seruan Doa &#8220;Bapa Kami&#8221; kepada Tuhan sebagai bapa surgawi yang nama-Nya dikuduskan dan Kerajaan-Nya dicari. Kedua tradisi ini menekankan transendensi Allah (&#8220;yang ada di surga&#8221;) dan imanensi (pemeliharaan Allah terhadap kebutuhan manusia). Keselarasan konsep ini menunjukkan bahwa doa &#8220;Bapa Kami&#8221; bukanlah ciptaan Kristen sendiri, tetapi doa ini berakar kuat dalam pemahaman Yahudi tentang hakikat Allah. Secara historis, doa <em>Avinu Malkeinu<\/em> berkembang setelah zaman Yesus (referensi pertamanya muncul bersama <em>Rabbi Akiva<\/em> pada akhir abad ke-1\u20132 Masehi). Dengan demikian, meskipun tema teologisnya asli milik orang Yahudi dan sebelum Kekristenan, bentuk liturgi spesifiknya baru muncul kemudian.<\/p>\n<p><strong><em>Amidah<\/em> (Doa Berdiri)<\/strong><\/p>\n<p>Selain <em>Avinu Malkeinu<\/em>, &#8220;Doa Bapa Kami&#8221; memiliki kesamaan linguistik dan tematik dengan doa-doa Yahudi lainnya, misalnya <em>Amidah<\/em> (Doa Berdiri) dan <em>Birkot HaShachar<\/em> (Berkat Pagi). Doa-doa ini, yang merupakan inti dari ibadah harian dan perayaan Yahudi, memberikan bukti lebih lanjut tentang asal usul liturgis dari &#8220;Doa Bapa Kami&#8221;.<\/p>\n<p><em>Amidah<\/em> (\u05d4\u05b7\u05e2\u05b2\u05de\u05b4\u05d9\u05d3\u05b8\u05d4), juga dikenal sebagai <em>Shemoneh Esrei<\/em> (\u05e9\u05b0\u05c1\u05de\u05d5\u05b9\u05e0\u05b6\u05d4 \u05e2\u05b6\u05e9\u05b0\u05c2\u05e8\u05b5\u05d4 \u2014 Delapan Belas Berkat), adalah dasar utama ibadah sinagoge Yahudi, yang dibaca tiga kali sehari. Permohonannya mencakup tema-tema pengudusan, peraturan Allah, pengampunan, dan perlindungan \u2014unsur-unsur inti dari \u201cDoa Bapa Kami.\u201d Misalnya, salah satu berkat dalam <em>Amidah<\/em> berbunyi:<\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\">\u201c<em>Nekadesh et shimcha ba\u2019olam, k\u2019shem shemakdishim oto bishmei marom<\/em>.\u201d<br \/>\n(\u05e0\u05b7\u05e7\u05b0\u05d3\u05b4\u05bc\u05d9\u05e9\u05c1 \u05d0\u05b6\u05ea \u05e9\u05b4\u05c1\u05de\u05b0\u05da\u05b8 \u05d1\u05b8\u05bc\u05e2\u05d5\u05b9\u05dc\u05b8\u05dd, \u05db\u05b0\u05bc\u05e9\u05b5\u05c1\u05dd \u05e9\u05b6\u05c1\u05de\u05b7\u05bc\u05e7\u05b0\u05d3\u05b4\u05bc\u05d9\u05e9\u05b4\u05c1\u05d9\u05dd \u05d0\u05d5\u05b9\u05ea\u05d5\u05b9 \u05d1\u05b4\u05bc\u05e9\u05b0\u05c1\u05de\u05b5\u05d9 \u05de\u05b8\u05e8\u05d5\u05b9\u05dd)<br \/>\n\u201cKami akan menguduskan nama-Mu di dunia ini, seperti dikuduskan di surga.\u201d<\/p>\n<p>Hal ini sangat mirip dengan doa \u201cBapa Kami\u201d yang berbunyi \u201cdikuduskanlah nama-Mu,\u201d mencerminkan keinginan bersama untuk menghormati kekudusan Tuhan baik di surga maupun di bumi. Berkat <em>Amidah<\/em> lainnya memohon kerajaan Allah:<\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\">\u201c<em>M\u2019loch al kol ha\u2019olam kulo bichvodecha<\/em>\u201d (\u05de\u05b0\u05dc\u05b9\u05da\u05b0 \u05e2\u05b7\u05dc \u05db\u05b8\u05bc\u05dc \u05d4\u05b8\u05e2\u05d5\u05b9\u05dc\u05b8\u05dd \u05db\u05bb\u05bc\u05dc\u05bc\u05d5\u05b9 \u05d1\u05b4\u05bc\u05db\u05b0\u05d1\u05d5\u05b9\u05d3\u05b6\u05da\u05b8)<br \/>\n\u201cBerkuasalah atas seluruh dunia dalam kemuliaan-Mu.\u201d<\/p>\n<p>Ini sejalan dengan: \u201cDatanglah Kerajaan-Mu\u201d, mengungkapkan kerinduan akan kedaulatan Allah yang universal. <em>Amidah<\/em> juga mencakup permohonan untuk berkat dan pengampunan, memperkuat kesamaan struktur dan tema &#8220;Doa Bapa Kami&#8221;.<\/p>\n<p><strong>Doa Pagi (<em>Birkot HaShachar<\/em>)<\/strong><\/p>\n<p><em>Birkot HaShachar<\/em> (\u05d1\u05b4\u05bc\u05e8\u05b0\u05db\u05d5\u05b9\u05ea \u05d4\u05b7\u05e9\u05b7\u05bc\u05c1\u05d7\u05b7\u05e8), yang dibaca setiap hari oleh orang Yahudi yang taat, mencakup ungkapan rasa syukur dan permohonan yang menggemakan &#8220;Doa Bapa Kami.&#8221; Salah satu berkat memohon perlindungan dari godaan dan kejahatan:<\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\">\u201c<em>V\u2019al tvi\u2019einu lo l\u2019ydei chet, v\u2019lo l\u2019ydei averah v\u2019avon, v\u2019lo l\u2019ydei nissayon\u2026 v\u2019al yishlot banu yetzer hara<\/em>.\u201d (\u05d5\u05b0\u05d0\u05b7\u05dc \u05ea\u05b0\u05bc\u05d1\u05b4\u05d9\u05d0\u05b5\u05e0\u05d5\u05bc \u05dc\u05b9\u05d0 \u05dc\u05b4\u05d9\u05d3\u05b5\u05d9 \u05d7\u05b5\u05d8\u05b0\u05d0, \u05d5\u05b0\u05dc\u05b9\u05d0 \u05dc\u05b4\u05d9\u05d3\u05b5\u05d9 \u05e2\u05b2\u05d1\u05b5\u05e8\u05b8\u05d4 \u05d5\u05b0\u05e2\u05b8\u05d5\u05b9\u05df, \u05d5\u05b0\u05dc\u05b9\u05d0 \u05dc\u05b4\u05d9\u05d3\u05b5\u05d9 \u05e0\u05b4\u05e1\u05b8\u05bc\u05d9\u05d5\u05b9\u05df\u2026 \u05d5\u05b0\u05d0\u05b7\u05dc \u05d9\u05b4\u05e9\u05b0\u05c1\u05dc\u05b9\u05d8 \u05d1\u05b8\u05bc\u05e0\u05d5\u05bc \u05d9\u05b5\u05e6\u05b6\u05e8 \u05d4\u05b8\u05e8\u05b8\u05e2)<\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\">\u201cJanganlah Engkau membawa kami ke dalam kuasa dosa, pelanggaran, kejahatan, godaan\u2026 dan janganlah Engkau membiarkan kecenderungan jahat menguasai kami.\u201d<\/p>\n<p>Permohonan ini sangat mirip dengan doa &#8220;Bapa Kami&#8221; yang berbunyi, &#8220;Janganlah Engkau membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.&#8221; Kedua doa ini mengakui kecenderungan manusia untuk gagal secara moral dan mencari pimpinan Allah untuk menghindari jebakan spiritual. Bahasa yang sama menekankan keprihatinan teologis yang sama: kebutuhan akan campur tangan Tuhan untuk mengatasi tantangan kehidupan manusia. Persamaan ini menunjukkan tema dan idiom yang sama, bukan meniru secara langsung. Kedekatan linguistik mencerminkan budaya Yudaisme awal, yang menghargai permohonan komunal yang singkat dan dihafal.<\/p>\n<p><strong>Konteks Sejarah dan Budaya<\/strong><\/p>\n<p>Akar Yahudi dari Doa \u201cBapa Kami\u201d menjadi lebih jelas ketika dilihat dalam konteks sejarahnya. Yesus, sebagai seorang guru Yahudi abad pertama, mengajarkan doa ini kapada murid-muridNya dalam lingkungan yang sangat dipengaruhi oleh tradisi liturgi doa sinagoga dan Bait Allah. Injil menuliskan &#8220;Doa Bapa Kami&#8221; sebagai bagian dari ajaran Yesus tentang doa (Matius 6:5-15; Lukas 11:1-4), yang kemungkinan dimaksudkan untuk membimbing para pengikutnya supaya \u00a0sesuai dengan praktik devosi Yahudi. Singkatnya doa dan strukturnya selaras dengan doa-doa hafalan singkat yang umum dalam liturgi Yahudi, seperti <em>Kaddish<\/em> atau <em>Avinu Malkeinu<\/em>, yang dirancang untuk dibaca bersama-sama.<\/p>\n<p><em>Kaddish<\/em> (\u05e7\u05b7\u05d3\u05b4\u05bc\u05d9\u05e9\u05c1), doa Yahudi penting lainnya, juga memiliki unsur tematik yang sama dengan &#8220;Doa Bapa Kami.&#8221; Meskipun terutama sebagai pujian kepada nama Tuhan, <em>Kaddish<\/em> juga mencakup permohonan untuk pendirian kerajaan Allah:<\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\">\u201c<em>Yitgadal v\u2019yitkadesh shmei raba\u2026 v\u2019yamlich malchutei<\/em>\u201d (\u05d9\u05b4\u05ea\u05b0\u05d2\u05b7\u05bc\u05d3\u05b7\u05bc\u05dc \u05d5\u05b0\u05d9\u05b4\u05ea\u05b0\u05e7\u05b7\u05d3\u05b7\u05bc\u05e9\u05c1 \u05e9\u05b0\u05c1\u05de\u05b5\u05d4\u05bc \u05e8\u05b7\u05d1\u05b8\u05bc\u05d0\u2026 \u05d5\u05b0\u05d9\u05b7\u05de\u05b0\u05dc\u05b4\u05d9\u05da\u05b0 \u05de\u05b7\u05dc\u05b0\u05db\u05d5\u05bc\u05ea\u05b5\u05d4\u05bc)<br \/>\n\u201cDimuliakan dan dikuduskanlah nama-Nya yang besar\u2026 dan kiranya Ia menegakkan kerajaan-Nya.\u201d<\/p>\n<p>Hal ini selaras dengan fokus &#8220;Doa Bapa Kami&#8221; pada pengudusan nama Tuhan dan berdoa untuk kerajaan-Nya. Meskipun <em>Kaddish<\/em> bukan sumber langsung untuk &#8220;Doa Bapa Kami,&#8221; penekanan yang sama pada pengudusan dan kedaulatan Allah menekankan nuansa liturgi Yahudi yang melahirkan Doa Bapa Kami. <em>Kaddish<\/em> sudah ada sebelum naskah terakhir Doa Bapa Kami tetapi belum tentu identik. Keduanya kemungkinan mencerminkan motif teologis yang sama dalam Yudaisme abad ke-1, jadi bukan saling meniru.<\/p>\n<p><strong>Jembatan Antara Dua Tradisi<\/strong><\/p>\n<p>Doa \u201cBapa Kami\u201d adalah rancangan ilahi pendekatan jiwa kepada Tuhan, penuh dengan harapan dimulai sejak kata pertamanya. Doa ini mengajarkan kita untuk datang ke hadapan Allah dengan hati yang percaya seperti seorang anak dan rasa hormat seperti seorang hamba yang setia. Dengan menyebut Tuhan sebagai \u201cBapa Kami,\u201d kita mengklaim tempat kita dalam keluarga-Nya, aman dalam kasih sayang dan perhatian-Nya yang intim. Dengan menyatakan nama dan kerajaan-Nya yang kudus, kita menaruh harapan kita pada otoritas tertinggi dan kehendak-Nya yang sempurna, percaya bahwa kebaikan-Nya akan menang.<\/p>\n<p>Doa ini menuntun kita bergantung pada Allah dengan penuh harapan. Dengan meminta &#8220;makanan secukupnya,&#8221; kita belajar untuk mengandalkan pemeliharaan-Nya yang setia, melepaskan kecemasan tentang hari esok. Dengan memohon pengampunan, kita memiliki pengharapan yang membebaskan untuk memulai lembaran baru dan hati yang dilembutkan. Dengan memohon pembebasan dari yang jahat, kita menyerahkan hidup kita ke dalam tangan-Nya, percaya bahwa Ia adalah penuntun dan pelindung kita.<\/p>\n<p>Oleh karena itu, doa ini lebih dari sekadar rangkaian kata-kata, melainkan ajakan untuk masuk ke dalam relasi yang penuh harapan. Doa ini meyakinkan kita bahwa kita didengar, ditopang, dan tidak pernah sendirian. Dalam setiap barisnya yang abadi, kita menemukan keberanian untuk datang kepada Sang Pencipta alam semesta, bukan dengan rasa takut, tetapi dengan keyakinan penuh harapan seperti anak yang dikasihi pulang ke rumah Bapanya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Doa \u201cBapa Kami,\u201d yang juga dikenal sebagai Doa Tuhan, adalah salah satu doa paling legendaris dan dihargai dalam kekristenan, dibaca oleh jutaan orang dari berbagai denominasi dan budaya. Kata-katanya, yang terdapat dalam Matius 6:9\u201313 dan Lukas 11:2\u20134, memancarkan kesederhanaan yang mendalam sekaligus kedalaman teologis. Namun, di balik peran utamanya dalam ibadah Kristen, banyak orang mungkin [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":179,"featured_media":12936,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"give_campaign_id":0,"footnotes":""},"categories":[422],"tags":[],"class_list":["post-18051","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-prayer-id"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v26.3 (Yoast SEO v27.6) - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-premium-wordpress\/ -->\n<title>Doa Bapa Kami dalam Tradisi Yahudi - Jewish Studies for Christians<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"noindex, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/id\\\/doa-bapa-kami-dalam-tradisi-yahudi\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/id\\\/doa-bapa-kami-dalam-tradisi-yahudi\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"Tammy Yu\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/drelisblog.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/65967c618c60ee1a00a667e58a9bf13b\"},\"headline\":\"Doa Bapa Kami dalam Tradisi Yahudi\",\"datePublished\":\"2026-05-17T14:56:52+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/id\\\/doa-bapa-kami-dalam-tradisi-yahudi\\\/\"},\"wordCount\":1374,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/drelisblog.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/id\\\/doa-bapa-kami-dalam-tradisi-yahudi\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/04\\\/paren.gif\",\"articleSection\":[\"Doa\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/id\\\/doa-bapa-kami-dalam-tradisi-yahudi\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/id\\\/doa-bapa-kami-dalam-tradisi-yahudi\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/id\\\/doa-bapa-kami-dalam-tradisi-yahudi\\\/\",\"name\":\"Doa Bapa Kami dalam Tradisi Yahudi - Jewish Studies for Christians\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/drelisblog.com\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/id\\\/doa-bapa-kami-dalam-tradisi-yahudi\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/id\\\/doa-bapa-kami-dalam-tradisi-yahudi\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/04\\\/paren.gif\",\"datePublished\":\"2026-05-17T14:56:52+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/id\\\/doa-bapa-kami-dalam-tradisi-yahudi\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/id\\\/doa-bapa-kami-dalam-tradisi-yahudi\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/id\\\/doa-bapa-kami-dalam-tradisi-yahudi\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/04\\\/paren.gif\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/04\\\/paren.gif\",\"width\":320,\"height\":320},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/id\\\/doa-bapa-kami-dalam-tradisi-yahudi\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/drelisblog.com\\\/id\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Doa Bapa Kami dalam Tradisi Yahudi\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/drelisblog.com\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/drelisblog.com\\\/\",\"name\":\"Dr Eli's Blog\",\"description\":\"\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/drelisblog.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/drelisblog.com\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Person\",\"Organization\"],\"@id\":\"https:\\\/\\\/drelisblog.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98\",\"name\":\"Dr. Eli (Eliyahu) Lizorkin-Girzhel\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/04\\\/logo-scaled.png\",\"url\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/04\\\/logo-scaled.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/04\\\/logo-scaled.png\",\"width\":2560,\"height\":470,\"caption\":\"Dr. Eli (Eliyahu) Lizorkin-Girzhel\"},\"logo\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/04\\\/logo-scaled.png\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/drelisblog.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/65967c618c60ee1a00a667e58a9bf13b\",\"name\":\"Tammy Yu\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/a5ca6481910b7994f2527527005a5863e7c45d66c24c8447760cfdca70cd60e7?s=96&d=identicon&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/a5ca6481910b7994f2527527005a5863e7c45d66c24c8447760cfdca70cd60e7?s=96&d=identicon&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/a5ca6481910b7994f2527527005a5863e7c45d66c24c8447760cfdca70cd60e7?s=96&d=identicon&r=g\",\"caption\":\"Tammy Yu\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/jewishstudiesforchristians.com\\\/id\\\/author\\\/tammyyulianto\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Doa Bapa Kami dalam Tradisi Yahudi - Jewish Studies for Christians","robots":{"index":"noindex","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/doa-bapa-kami-dalam-tradisi-yahudi\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/doa-bapa-kami-dalam-tradisi-yahudi\/"},"author":{"name":"Tammy Yu","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/65967c618c60ee1a00a667e58a9bf13b"},"headline":"Doa Bapa Kami dalam Tradisi Yahudi","datePublished":"2026-05-17T14:56:52+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/doa-bapa-kami-dalam-tradisi-yahudi\/"},"wordCount":1374,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98"},"image":{"@id":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/doa-bapa-kami-dalam-tradisi-yahudi\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/paren.gif","articleSection":["Doa"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/doa-bapa-kami-dalam-tradisi-yahudi\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/doa-bapa-kami-dalam-tradisi-yahudi\/","url":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/doa-bapa-kami-dalam-tradisi-yahudi\/","name":"Doa Bapa Kami dalam Tradisi Yahudi - Jewish Studies for Christians","isPartOf":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/doa-bapa-kami-dalam-tradisi-yahudi\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/doa-bapa-kami-dalam-tradisi-yahudi\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/paren.gif","datePublished":"2026-05-17T14:56:52+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/doa-bapa-kami-dalam-tradisi-yahudi\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/doa-bapa-kami-dalam-tradisi-yahudi\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/doa-bapa-kami-dalam-tradisi-yahudi\/#primaryimage","url":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/paren.gif","contentUrl":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/paren.gif","width":320,"height":320},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/doa-bapa-kami-dalam-tradisi-yahudi\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Doa Bapa Kami dalam Tradisi Yahudi"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#website","url":"https:\/\/drelisblog.com\/","name":"Dr Eli's Blog","description":"","publisher":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/drelisblog.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Person","Organization"],"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98","name":"Dr. Eli (Eliyahu) Lizorkin-Girzhel","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/logo-scaled.png","url":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/logo-scaled.png","contentUrl":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/logo-scaled.png","width":2560,"height":470,"caption":"Dr. Eli (Eliyahu) Lizorkin-Girzhel"},"logo":{"@id":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/logo-scaled.png"},"sameAs":["https:\/\/jewishstudiesforchristians.com"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/65967c618c60ee1a00a667e58a9bf13b","name":"Tammy Yu","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a5ca6481910b7994f2527527005a5863e7c45d66c24c8447760cfdca70cd60e7?s=96&d=identicon&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a5ca6481910b7994f2527527005a5863e7c45d66c24c8447760cfdca70cd60e7?s=96&d=identicon&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a5ca6481910b7994f2527527005a5863e7c45d66c24c8447760cfdca70cd60e7?s=96&d=identicon&r=g","caption":"Tammy Yu"},"url":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/author\/tammyyulianto\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18051","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/179"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=18051"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18051\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12936"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=18051"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=18051"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jewishstudiesforchristians.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=18051"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}