Injil

Akrostik Ibrani di Salib

Temukan bagaimana Pilatus membalas para pemimpin Yahudi yang mencoba memerasnya.

Hanya ada sedikit tokoh dalam narasi sengsara Yesus yang sama misteriusnya dengan Pontius Pilatus, seorang prefek Romawi di Yudea (sekitar 26–36 M). Selama berabad-abad, tradisi Kristen sering menggambarkannya sebagai hakim yang enggan—seorang pria yang terjebak di antara keyakinannya bahwa Yesus tidak bersalah dan kerumunan orang banyak yang haus darah di Yerusalem. Kita membaca:

“Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, Hamba-Mu yang kudus, yang Engkau urapi.” (Kisah Para Rasul 4:27)

Namun pembacaan yang lebih teliti terhadap catatan Injil menyingkapkan sosok yang jauh lebih kompleks, terutama ketika kita mempertimbangkan dinamika agama dan politik pada masa Bait Suci Kedua (516 SM–70 M). Pilatus adalah seorang gubernur Romawi yang melakukan pembalasan yang halus dan mungkin bahkan bersifat profetis setelah dimanipulasi oleh para pemimpin agama Yahudi. “Balasan” ini muncul melalui dua tindakan simbolis yang dipilih dengan hati-hati: ritual membasuh tangan di depan orang banyak dan tulisan yang dipasang di atas salib Yesus. Kedua tindakan tersebut, yang sangat tertanam dalam adat dan teologi Yahudi, memungkinkan Pilatus mengejek lawan-lawan politiknya (para pemimpin Yudea), menegaskan posisinya, dan mengubah kemenangan politik mereka menjadi sebuah penghinaan teologis.

Dilema Pilatus

Untuk memahami tindakan Pilatus, seseorang harus terlebih dahulu memahami situasi di Yudea  yang bergejolak di bawah pendudukan Romawi pada zaman Bait Suci Kedua. Wilayah ini merupakan wilayah yang mudah meledak oleh harapan mesianik, terutama selama perayaan ziarah seperti Paskah, ketika Yerusalem dipenuhi para peziarah dan kenangan akan pembebasan memenuhi suasana.

Seorang prefek Romawi adalah pejabat tinggi yang bertanggung jawab atas tugas administratif, militer, atau yudisial tertentu di dalam Republik Romawi dan terutama dalam Kekaisaran Romawi. Gelar praefectus (bahasa Latin: “yang ditempatkan untuk memimpin”) bukan jabatan pilihan tradisional, melainkan otoritas yang didelegasikan, yang bertanggung jawab langsung kepada kaisar atau gubernur yang lebih tinggi. Sebagai prefek, Pilatus memiliki kuasa yang besar, tetapi ia juga hidup di bawah pengawasan dari istana kekaisaran dan para elit agama setempat. Imam-imam besar Saduki dan Sanhedrin memiliki pengaruh besar terhadap rakyat Yahudi, dan gangguan besar apa pun dapat mengakhiri jabatan bahkan karier Pilatus.

Catatan Injil (Matius 27:11–26; Markus 15:1–15; Lukas 23:1–25; Yohanes 18:28–19:16) sepakat bahwa Pilatus tidak menemukan kesalahan apa pun yang layak dihukum mati pada Yesus (bahkan istrinya memperingatkannya setelah bermimpi tentang ketidakbersalahan Yesus). Namun para imam kepala terus menekannya tanpa henti. Yohanes 19:12 mencatat langkah politik terakhir yang menempatkannya dalam posisi sulit: “Jikalau engkau membebaskan Dia, engkau bukanlah sahabat Kaisar.”

“Sahabat Kaisar” (Amicus Caesaris) adalah gelar kehormatan resmi Romawi. Dalam konteks abad pertama, gelar itu diberikan kepada sekutu-sekutu terpercaya dan pelayan setia kaisar, menandakan hubungan politik yang dekat dan membawa gengsi yang besar. Tuduhan tidak setia kepada Kaisar Tiberius merupakan sesuatu yang sangat berbahaya, terutama mengingat hubungan Pilatus dengan rakyatnya memang sudah tegang sebelumnya (Josephus, Antiquities 18.55–59). Pilatus akhirnya menyerah ketika menghadapi ancaman kerusuhan pada masa Paskah—sebuah perayaan yang sarat dengan semangat nasionalisme. Namun penyerahannya sama sekali bukanlah tindakan lemah. Melalui pembasuhan tangannya dan tulisan di atas salib, Pilatus menyisipkan tindakan perlawanan yang menunjukkan bahwa ia memahami adat Yahudi dan memanfaatkan penduduk setempat sebagai senjata.

Ritual Membasuh Tangan: Membalikkan Kemurnian Kaum Farisi

Tindakan balas dendam pertama Pilatus hanya ditemukan dalam Injil Matius. Matius mencatat:

“Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: ‘Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!’” (Matius 27:24)

Dalam budaya Barat modern, membasuh tangan bermakna menghindar dari tanggung jawab. Namun dalam konteks Yudaisme Bait Suci Kedua, tindakan ini memiliki makna yang jauh lebih dalam. Pada abad pertama Masehi, ritual membasuh tangan (netilat yadayim) menjadi ciri utama kesalehan kaum Farisi. Berakar pada “adat istiadat nenek moyang” (Markus 7:3–5; lihat juga Matius 15:2), praktik ini sebenarnya merupakan hukum penyucian di Bait Allah yang diterapkan ke dalam tata cara makan sehari-hari dan kegiatan-kegiatan suci. Meskipun tidak diperintahkan secara eksplisit dalam Taurat, kaum Farisi mengangkat praktik ini menjadi hampir setara dengan hukum resmi, dan kemudian Mishnah bahkan mendedikasikan satu traktat penuh (Yadayim) untuk peraturan-peraturannya. Kaum Saduki, yang mengendalikan imamat, sering berselisih dengan kaum Farisi mengenai inovasi-inovasi semacam ini, tetapi praktik tersebut dikenal luas di antara masyarakat Yahudi.

Pembasuhan tangan Pilatus di depan umum mengambil simbol Yahudi yang khas ini dan mengubahnya menjadi tuduhan. (Meskipun dalam dunia Romawi sendiri juga terdapat gagasan bahwa ritual air dapat mensucikan seseorang dari kesalahan darah.) Ulangan 21:6–7 menggambarkan para tua-tua membasuh tangan di atas seekor lembu muda untuk membebaskan diri dari tanggung jawab atas pembunuhan yang tidak terpecahkan. Pemazmur menyatakan: “Aku membasuh tanganku tanda tak bersalah, lalu berjalan mengelilingi mezbah-Mu, ya TUHAN.” (Mazmur 26:6) Dengan melakukan tindakan ini, Pilatus menyelaraskan dirinya dengan logika ritual Yahudi. Ia menyatakan dirinya tidak bersalah atas kematian Yesus sambil secara tidak langsung menempatkan para pemimpin agama sebagai pembunuh yang menanggung kenajisan darah orang yang tidak bersalah.

Pilatus, gubernur kafir itu, berhasil mengalahkan mereka di wilayah budaya mereka sendiri. Ia mengambil simbol kesalehan Farisi dan mengubahnya untuk mengungkapan kemunafikan mereka di depan umum. Ini bukan tindakan seorang administrator lemah yang berusaha menyenangkan massa; ini adalah langkah yang diperhitungkan dari seorang yang memahami nilai-nilai lawannya dan menggunakan nilai-nilai tersebut untuk mempermalukan mereka.

Tulisan di Salib: Mahkota Ejekan dan Keilahian

Penyaliban Romawi biasanya menyertakan sebuah titulus—sebuah papan yang menjelaskan kejahatan orang yang dihukum. Untuk Yesus, Pilatus memerintahkan tulisan: “Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi.” (Yohanes 19:19) Kata-kata ini sangat menarik. Bukannya menuliskan tuduhan kejahatan hukum misalnya “pemberontakan” atau “penghasutan,” Pilatus justru memberikan sebuah gelar kerajaan. Injil mencatat bahwa tulisan itu dibuat dalam tiga bahasa—Ibrani, Latin, dan Yunani—agar para peziarah dari berbagai wilayah diaspora dapat membacanya (Yohanes 19:20). Tulisan multibahasa ini bukan sekadar ketelitian administratif; ini merupakan sebuah pertunjukan publik.

Para imam kepala segera memprotes: “Jangan engkau menulis: Raja orang Yahudi, tetapi bahwa Ia mengatakan: Aku adalah Raja orang Yahudi.” (Yohanes 19:21) Jawaban Pilatus yang singkat: “Apa yang kutulis, tetap tertulis.” (Yohanes 19:22) adalah jawaban seseorang yang telah menemukan titik kekuatannya dan tidak mau melepaskannya.

Namun tulisan itu mengandung dimensi teologis yang lebih dalam—sesuatu yang mungkin memang disengaja Pilatus atau mungkin diatur oleh tangan providensia Allah.

Kita mengetahui bentuk Yunani yang digunakan Pilatus dari Injil; ejaan Ibraninya tidak diketahui secara pasti dan hanya dapat direkonstruksi. Ada dua kemungkinan:

ישוע הנצרי מלך היהודים

ישוע הנצרי ומלך היהודים

ישוע הנצרי ומלך היהודים

Jika rekonstruksi Ibrani versi kedua benar, maka secara luar biasa huruf-huruf pertama dari empat kata Ibrani tersebut—Yod (י), He (ה), Vav (ו), He (ה)—membentuk Tetragrammaton (YHWH) sebagai sebuah akrostik dari nama Allah Israel yang kudus. Menempatkan akrostik YHWH di atas kepala seorang Yahudi yang disalibkan—yang dalam Ulangan 21:23 disebut sebagai seseorang yang “terkutuk oleh Allah”—akan menjadi bentuk pembalasan paling besar terhadap para pemimpin Yahudi yang berhasil memeras Pilatus.

Bagi para imam kepala, yang telah menuduh Yesus menghujat Allah (Markus 14:64), akrostik ini tentu akan sangat sulit diterima. Apakah Pilatus, seorang Romawi kafir, memahami akrostik Ibrani ini masih menjadi perdebatan sejarah. Mungkin ia telah mempelajari cukup banyak hal dari informan lokal atau dari pengamatannya sendiri agar dapat memerintah wilayah yang sering terjadi pemberontakan ini dengan lebih efektif. Baik Josephus maupun Philo mencatat pola Pilatus yang sering menyinggung perasaan religius orang Yahudi (misalnya dengan membawa lambang-lambang Romawi ke Yerusalem). Akrostik ini akan menjadi senjata yang sempurna: tidak disadari oleh kebanyakan orang Romawi dan Yunani, tetapi meneriakkan penghinaan yang menggemparkan setiap orang Yahudi yang dapat membacanya. Dengan menolak mengubah tulisan tersebut (yang akan merusak akrostik YHWH di dalamnya!), Pilatus memaksa para pemimpin Yahudi berdiri di bawah tanda yang secara tersirat mengidentifikasi Pribadi yang mereka hukum dengan Nama Ilahi yang mereka hormati dan kasihi.

Tinggalkan Balasan

Limit 150 words

Comments (0)

No comments yet.