Taurat

Ambillah Anakmu, Anak yang Engkau Kasihi

Temukan makna yang lebih dalam yang tidak terlihat dalam Alkitab terjemahan kita

Sebelum Kejadian 22, Abraham sebenarnya telah mengalami sembilan kali ujian. Berbagai tradisi Yahudi menyebutkan ada sepuluh peristiwa yang menguji iman Abram/Abraham kepada YHWH habis-habisan. Namun, tidak ada satu pun yang dapat dibandingkan dengan ujian yang terakhir, yaitu ujian kesepuluh. Pengikatan Ishak menggambarkan perintah Allah kepada Abraham untuk mengambil anak tunggalnya yang dikasihinya dan mempersembahkannya sebagai korban bakaran di atas gunung yang akan ditunjukkan Allah kepadanya (Kej. 22:1–19).

Kita membaca:

“Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak” (Kej. 22:2).

Bahasa Ibrani menyusun frasa demi frasa dengan intensitas yang semakin meningkat: בִּנְךָ (bin’kha, “anakmu”), יְחִידְךָ (y’chid’kha, “satu-satunya”), אֲשֶׁר אָהַבְתָּ (asher ahav’ta, “yang engkau kasihi”), dan יִצְחָק (Yitzchak, “Ishak”). Pada saat kalimat itu berakhir dengan nama Ishak, para pembacanya seakan menahan napas. Momen ini bukan sesuatu yang abstrak. Ini adalah anak yang membawa tawa, anak mukjizat, seluruh masa depan perjanjian Allah—dan sekarang diperintahkan untuk dijadikan korban bakaran.

Menahan diri dari Kesiapan

Tiga kali dalam kisah ini Abraham menjawab dengan kata yang sama: הִנֵּנִי (hineini). Bahasa Indonesia maupun Inggris sulit menangkap kedalaman maknanya. “Ini aku” mengurangi makna yang sebenarnya ingin disampaikan dalam bahasa Ibrani: kehadiran yang utuh—tubuh, pikiran, dan kehendak yang sepenuhnya terarah kepada pribadi yang memanggilnya. Ini adalah jawaban seorang hamba yang telah memutuskan untuk taat bahkan sebelum mengetahui perintah yang akan diberikan.

Walaupun hal ini sering tidak terlihat dalam Alkitab terjemahan, Abraham memakai frasa ini tiga kali dalam perikop ini. Ia mengatakannya kepada Allah pada ayat 1. Ia mengatakannya kepada Ishak pada ayat 7 (yang biasanya diterjemahkan lebih lemah sebagai “Ya, anakku”). Ia juga mengatakannya kepada malaikat pada ayat 11. Di antara tiga ucapan hineini itu, tercakup  seluruh iman semesta alam.

Perjalanan yang Sunyi

Narator sengaja tidak memberitahu kita apa yang dirasakan Abraham. Yang kita lihat hanyalah tindakannya: bangun pagi-pagi, memasang pelana pada keledainya, membelah kayu, lalu melakukan perjalanan selama tiga hari. Tiga hari menyimpan dalam hati apa yang menanti di depan. Tiga hari berjalan bersama anak yang akan ia korbankan. Tiga hari dalam keheningan.

Ketika Abraham akhirnya berbicara kepada para bujangnya, ia mengatakan sesuatu yang mengejutkan: “Kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu” (Kej. 22:5). Bukan, “Aku akan kembali.” Tetapi: Kami akan kembali. Para ahli bahasa Ibrani mencatat bahwa pernyataan ini dapat dipahami sebagai penipuan, menipu diri sendiri, atau nubuat. Abraham mungkin sedang menyembunyikan kebenaran dari para bujangnya (supaya mereka tidak mencegahnya), dari Ishak (supaya ia tidak melarikan diri), atau bahkan dari dirinya sendiri (supaya tekadnya tidak goyah). Namun teks ini memberikan kemungkinan yang lebih besar: Abraham sungguh percaya bahwa Allah akan membangkitkan Ishak dari kematian. Ibrani 11:19 menyatakan hal itu secara langsung: “Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati.”

Pisau yang Turun

Pada saat tangan Abraham mengangkat pisau itu, malaikat berseru: “Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia” (Kej. 22:12). Lalu muncullah pernyataan yang mengguncangkan secara teologis: “Sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.”

Sekarang Allah tahu? Apakah sebelumnya Dia tidak mengetahuinya?

Allah sudah tahu bahwa Abraham akan taat. Tetapi Abraham perlu mengetahuinya. Dunia juga perlu mengetahuinya. עֲקֵדָה (Akedah, “pengikatan”) menjadi bukti bahwa seorang manusia dapat mengasihi Allah lebih daripada hidup itu sendiri—lebih daripada masa depan yang dijanjikan, lebih daripada anak mukjizat, bahkan lebih daripada seluruh harapan dan impiannya.

Ishak, Domba Jantan, dan Yesus

Abraham mengangkat wajahnya dan melihat seekor domba jantan yang tanduknya tersangkut di semak-semak. Penggantian ini bukan penolakan terhadap korban, melainkan dialihkan. Sebuah midrash (kisah penafsiran Yahudi) menggambarkan Abraham berdoa: “Biarlah hal ini diperhitungkan seolah-olah darah domba jantan ini adalah darah anakku Ishak.” Domba jantan itu mati menggantikan Ishak, tetapi Ishak sebenarnya sudah mati di dalam hati Abraham. Itulah sebabnya malaikat berkata bahwa Abraham tidak menahan anaknya—korban itu telah selesai bahkan sebelum pisau itu menghunjam.

Lukisan The Sacrifice of Isaac karya Marc Chagall  tahun 1966 menangkap sesuatu yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. (Chagall adalah seorang seniman Yahudi Rusia, yang kemudian menjadi warga negara Prancis). Dalam penglihatan Chagall, salib telah hadir di Moriah, melayang di atas tempat itu. Ketika Abraham mengangkat pisau, darah mengalir turun dari salib dan dari Pribadi yang memikulnya menuju mezbah tempat Ishak terikat. Aliran merah itu mengalir langsung ke atas mezbah tempat Ishak dibaringkan. Domba jantan juga ada di sana, tetapi darah itu menceritakan kisah yang sebenarnya: mezbah tempat Ishak terikat dan salib di atasnya ternyata terhubung secara erat.

Seorang Farisi Yahudi yang pernah berjumpa dengan Yesus Kristus yang telah bangkit—yang sekarang kita kenal sebagai Rasul Paulus—pernah mengajukan pertanyaan retoris bagi jemaat yang sedang bergumul dan para pengikut Kristus mula-mula yang mengalami penganiayaan di Roma.

“Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” (Rm. 8:32)

Baik Rasul Paulus maupun Marc Chagall memahami bahwa sebagaimana Abraham harus menunjukkan kepada Allah, kepada dirinya sendiri, dan kepada orang lain tentang kasihnya kepada Allah, demikian juga Allah harus menunjukkan kasih-Nya dengan mempersembahkan Anak-Nya yang tunggal dan satu-satunya, yaitu Yesus. (Yoh. 3:16)

Kesimpulan

Inilah kebenaran yang diajarkan gunung itu: Allah meminta Abraham menunjukkan penyerahan diri dan komitmen secara total kepada-Nya, dan kemudian TUHAN menunjukkan bahwa Dia juga bersedia melakukan hal yang sama. Bukan hanya Allah dapat mempercayai Abraham, tetapi Abraham—yang mewakili seluruh keturunannya—juga dapat mempercayai Allah. Allah tidak menahan diri-Nya sendiri untuk menyerahkan Anak-Nya yang terkasih, Yesus. Inilah Allah yang dapat aku percayai. Dan Anda juga dapat mempercayai-Nya.

Tinggalkan Balasan

Limit 150 words

Comments (0)

No comments yet.