Dari Pniel ke Betel: Mengapa Nama Yakub Diubah Dua Kali?
Telusuri perjalanan Yakub dari Pniel menuju Betel
Telusuri perjalanan Yakub dari Pniel menuju Betel
Mungkin salah satu perubahan paling dramatis dalam Alkitab adalah perubahan nama Yakub menjadi Israel. Pembacaan yang cermat dari Kitab Kejadian menyingkapkan sebuah detail menarik yang sering luput dari perhatian. Allah mengubah nama Yakub menjadi Israel melalui tindakan yang tegas di Pniel (Kej. 32:22–32), lalu beberapa tahun kemudian mengesahkan perubahan nama itu secara terbuka di Betel (Kej. 35:10). Apa yang tampaknya seakan-akan dua kali pergantian nama sebenarnya merupakan satu identitas baru yang sama: pertama kali diberikan melalui pergumulan pribadi, setelah itu dimeteraikan dalam sebuah upacara perjanjian yang bersifat komunal.
Penggantian Nama Pertama: Pniel, Identitas Melalui Pergumulan
Peristiwa di Pniel merupakan salah satu adegan paling berkesan dalam Perjanjian Lama. Yakub sedang sendirian dan dipenuhi ketakutan. Masa lalunya sedang mengejarnya. Esau, saudara yang pernah ia tipu sehingga kehilangan hak kesulungannya, sedang datang menghampirinya bersama empat ratus orang. Setelah mengantar keluarganya dan mengirim seluruh harta miliknya menyeberangi sungai Yabok, Yakub tinggal seorang diri. Lalu seseorang bergulat dengannya sampai fajar menyingsing.
Radak, seorang penafsir Yahudi terkemuka pada abad pertengahan, berpendapat bahwa sosok ilahi yang bergulat ini diutus oleh TUHAN untuk mencegah Yakub melakukan kesalahan besar lainnya (Yakub sedang mempertimbangkan kembali rencananya untuk kembali ke tanah perjanjian, yang berarti ia harus menghadapi Esau). Mereka bergulat dalam kegelapan. “Orang” itu menyentuh sendi pangkal paha Yakub dan membuatnya terpelecok hanya dengan satu sentuhan. Sejak saat itu Yakub berjalan pincang. Namun meskipun terluka, ia menolak melepaskan lawannya sambil berseru: “Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku.” (Kej. 32:26, TB)
Kemudian sosok ilahi itu bertanya, “Siapakah namamu?” Pertanyaan ini bukanlah untuk meminta informasi. Allah sudah mengetahui nama Yakub. Pertanyaan itu merupakan panggilan untuk menyadari identitas dirinya. Yakub menjawab, “Yakub” (יַעֲקֹב, Ya‘aqov), yang berarti “ia yang menggantikan” atau “ia yang memegang tumit,” sebuah rujukan kepada pola hidupnya yang penuh tipu daya dan bergantung pada kekuatannya sendiri. Lalu sosok ilahi itu menyatakan:
“Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel (יִשְׂרָאֵל, Yisra’el), sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.” (Kej. 32:28, TB)
Nama Yisra’el paling tepat diterjemahkan sebagai “orang yang bergumul dengan Allah” atau “orang yang dengannya Allah bergumul” (dari kata שָׂרָה sarah, “berjuang/berusaha keras,” dan אֵל El, “Allah”). Ini adalah nama kehormatan, sekaligus nama yang ditandai oleh penderitaan. Yakub tidak memperoleh berkat dengan kekuatannya. Justru sebaliknya. Ia menerimanya dengan berpegangan kepada Allah dalam keadaan yang lemah sepenuhnya. Pelajaran utamanya sangat sederhana: Yakub tidak perlu takut menghadapi Esau, karena ia telah berhadapan muka dengan Pribadi yang jauh lebih kuat dan lebih menakutkan.
Tahun-Tahun di Antara Keduanya: Hidup Seperti Yakub, Bukan Israel
Ketika tragedi keluarga terjadi dalam Kejadian 34, Dina, putri Yakub, diperkosa. Sebagai tanggapan, Simeon dan Lewi menggunakan tipu daya dan melakukan pembantaian besar-besaran. Mereka menipu para laki-laki di Sikhem untuk disunat, lalu membunuh mereka ketika mereka masih dalam kesakitan. Tindakan licik ini mencerminkan penipuan Yakub sendiri terhadap Ishak pada masa mudanya.
Reaksi Yakub sangat menarik. Ia tidak berkata, “Kalian telah mencemarkan nama Allah yang telah mengganti namaku menjadi Israel.” Sebaliknya, ia berseru:
“Kamu telah mencelakakan aku dengan membusukkan namaku kepada penduduk negeri ini.” (Kej. 34:30, TB)
Sekilas, perkataan ini terdengar seperti ketakutan akan pembalasan dan usaha menyelamatkan diri sendiri. Namun pembacaan yang lebih teliti menunjukkan sesuatu yang lebih mendalam. Anak-anak Yakub bertindak persis seperti ayah mereka dahulu: mereka menggunakan tanda perjanjian yang kudus (sunat) sebagai alat untuk menipu. Teks Ibrani secara eksplisit menghubungkan kedua peristiwa ini : ketika Yakub menipu Ishak, ia bertindak dengan mirmah (מִרְמָה), yang berarti “tipu daya” atau “kelicikan.” Dalam Kejadian 34:13, kata yang sama muncul kembali: anak-anak Yakub menjawab Sikhem “dengan tipu daya” (בְּמִרְמָה, bemirmah). Narator sedang memberi isyarat bahwa sifat lama “Yakub”—si penipu —telah diwariskan kepada generasi berikutnya. Yakub melihat cermin dirinya sendiri. Pola penipuannya yang tidak pernah benar-benar disingkirkan kini kembali menghantuinya di ladang-ladang Sikhem yang berlumuran darah.
Itulah sebabnya Kejadian 35 tidak dimulai dengan Allah berkata, “Bagus sekali.” Sebaliknya, Allah memerintahkan: “Bersiaplah, pergilah ke Betel… jauhkanlah dewa-dewa asing… tahirkanlah dirimu.” Kejadian yang mengerikan dalam Kejadian 34 menyingkapkan bahwa orang yang diberi nama Israel di Pniel masih hidup sebagai Yakub. Nama Israel belum dapat disahkan secara terbuka sampai keluarganya disucikan dan berhala-berhala itu dikuburkan.
Penggantian Nama Kedua: Betel, Identitas yang Dihidupi dalam Komunitas
Yakub taat. Kita membaca:
“Lalu berkatalah Yakub kepada seisi rumahnya dan kepada semua orang yang bersama-sama dengan dia: ‘Jauhkanlah dewa-dewa asing yang ada di tengah-tengah kamu, tahirkanlah dirimu dan tukarlah pakaianmu. Marilah kita bersiap dan pergi ke Betel; aku akan membuat mezbah di situ bagi Allah, yang telah menjawab aku pada masa kesesakanku dan yang telah menyertai aku di jalan yang kutempuh.’ Mereka menyerahkan kepada Yakub segala dewa asing yang dipunyai mereka dan anting-anting yang ada pada telinga mereka, lalu Yakub menanamnya di bawah pohon besar yang dekat Sikhem.” (Kej. 35:2–4, TB)
Kemudian Allah menampakkan diri lagi kepadanya, bukan sebagai sosok yang bergulat dalam kegelapan malam, melainkan sebagai אֵל שַׁדַּי (El Shaddai), dalam suatu upacara perjanjian yang bersifat komunal. Dalam Kejadian 35:11 Allah berkata kepada Yakub:
“Suatu bangsa, bahkan sekumpulan bangsa-bangsa, akan terjadi dari padamu.”
Ada tambahan penting di sini yang tidak ditemukan di Pniel. Di Pniel, nama Israel diberikan sebagai tanda perubahan pribadi; identitas Yakub diubah melalui pergumulan. Di Betel, nama yang sama diperluas sehingga memikul beban sebuah bangsa. Apa yang dahulu bersifat pribadi kini menjadi publik. Apa yang dahulu bersifat individual kini menjadi komunal. Nama “Israel” sekarang bukan hanya milik seorang laki-laki yang berjalan pincang, melainkan menjadi milik bangsa yang akan lahir darinya.
Lalu terjadilah penggantian nama yang kedua. Ayat 10 berkata:
“Firman Allah kepadanya: ‘Namamu Yakub; dari sekarang namamu bukan lagi Yakub, melainkan Israel, itulah yang akan menjadi namamu.’ Maka Allah menamai dia Israel.” (Kej. 35:10, TB)
Namun perlu diberikan sebuah catatan penting. Kejadian 35:10 tidak secara eksplisit melarang siapapun untuk menyebutnya “Yakub” lagi. Larangan tersebut adalah melarang penggunaan nama “Yakub” sebagai nama resmi yang utama. Karena itu, penggunaan nama “Yakub” oleh narator setelah peristiwa tersebut bukanlah kontradiksi, melainkan pilihan sastra yang disengaja. Hal itu untuk menunjukkan bahwa identitasnya memang telah diubah, tetapi perilakunya belum sepenuhnya mengikuti perubahan identitas tersebut.
Kesimpulan
Betel bukanlah sekadar pengulangan tanpa makna dari Pniel. Betel adalah pengesahan publik dan penyempurnaan komunal dari apa yang telah dimulai sebelumnya. Sebelum nama “Israel” dimeteraikan, dewa-dewa asing harus dikuburkan, pakaian harus diganti, dan seluruh keluarga harus ditahirkan. Apa yang Allah mulai dalam kegelapan di Pniel, Ia selesaikan dalam terang di Betel. Ini bukanlah terobosan yang terjadi secara instan, melainkan proses bertahap dari pengudusan (sanctification) dan perwujudan identitas baru dalam kehidupan nyata.
Bagi Yakub, penyempurnaan itu berarti kembali ke tempat janji pertama diberikan. Namun kali ini ia datang bukan sebagai penipu yang melarikan diri dari saudaranya. Ia datang sebagai seorang laki-laki yang berjalan pincang, yang telah menguburkan berhala-berhala keluarganya, dan yang akhirnya menyandang nama barunya bukan sekadar sebagai berkat pribadi, melainkan sebagai identitas komunal. Pniel adalah tempat pergumulan yang membuat pangkal pahanya terpelecok dan memberinya nama baru. Betel adalah mezbah tempat identitas itu dimeteraikan di hadapan Allah dan keluarganya, tempat seorang laki-laki bernama Yakub sepenuhnya menjadi bapa dari sebuah bangsa yang bernama Israel. Tanpa Pniel, tidak akan ada perubahan. Namun tanpa Betel, perubahan itu tidak lengkap—sebuah berkat yang tidak pernah sepenuhnya terwujud.
Comments (0)