Taurat

Harapan bagi Keluarga yang Disfungsional

Kejadian 35:16–22 memuat salah satu bagian paling tragis dalam seluruh Alkitab. Pada akhir perikop ini, Yakub kehilangan ayahnya, Ishak, menguburkan Rahel, istri yang sangat dikasihinya, dan dikhianati anak sulungnya sendiri. Namun di tengah semua itu, kehidupan baru lahir (Benyamin), dan sebuah fondasi baru yang mengejutkan bagi harapan masa depan mulai disiapkan (kepemimpinan Yehuda atas Israel untuk pertama kalinya dinubuatkan). Bagian ini merupakan gambaran yang jujur dan tanpa tedeng aling-aling tentang sebuah keluarga yang sedang berada dalam krisis. Namun justru di dalam krisis itu kita menemukan benih-benih rencana penebusan Allah. Pada hakikatnya, inilah harapan bagi keluarga yang disfungsional: tujuan-tujuan Allah tidak digagalkan oleh kegagalan manusia, bahkan seringkali justru semakin maju melaluinya.

Kematian Rahel dan Kelahiran Benyamin

Ketika rombongan Yakub (yang sekarang disebut Israel) melakukan perjalanan dari Betel menuju Bersyeba, tempat tinggal Ishak (Kej. 35:27), Rahel—yang telah mengalami begitu banyak penderitaan sepanjang hidupnya—mulai merasakan sakit bersalin. Ia harus berbagi suaminya dengan saudara perempuannya sendiri dan melahirkan jauh lebih sedikit anak dibandingkan kakaknya, Lea. Kini ia harus menghadapi kenyataan pahit: ia akan meninggal saat melahirkan.

Meskipun bidan meyakinkannya bahwa ia telah melahirkan seorang anak laki-laki—sesuatu yang sangat penting dalam konteks budayanya—Rahel menamai anak itu Ben-Oni, yang berarti “anak dukacitaku,” walaupun akar katanya juga dapat berarti “kekuatan” atau “keperkasaan,” sehingga nama itu mengandung makna ganda yang sangat menyentuh. Yakub kemudian mengganti namanya menjadi Benyamin, yang secara tradisional diterjemahkan sebagai “anak tangan kanan,” yaitu anak kehormatan atau pembawa keberuntungan. Pemberian dua nama ini sendiri mengandung teologi yang mendalam. Teks Alkitab menghadirkan dukacita sekaligus  harapan, tanpa memilih salah satunya. Kesedihan Rahel adalah nyata dan dihormati. Harapan Yakub bukanlah penyangkalan terhadap dukacita itu, melainkan pengakuan bahwa Allah mampu mendatangkan kebaikan di tengah penderitaan.

“Dengan kesedihan yang mendalam, Yakub menguburkan Rahel tidak jauh dari Betlehem, di jalan menuju Efrata (Kej. 35:16–22).”

Gua Para Leluhur (Cave of the Patriarchs) merupakan salah satu tempat paling suci bagi bangsa Yahudi. Dalam bahasa Ibrani, Me’arat ha-Machpelah (מְעָרַת הַמַּכְפֵּלָה) berarti “Gua Ganda.” Di tempat itu dimakamkan tiga pasang tokoh besar: Abraham dan Sara, Ishak dan Ribka, serta Yakub dan Lea. Nama tersebut mencerminkan baik struktur gua yang terdiri dari dua ruang maupun ketiga pasangan suami istri ini, pasangan ganda yang dimakamkan bersama di dalam situs suci Hebron ini.

Salah satu alasan mengapa dalam tradisi Yudaisme Rahel dipandang sebagai seorang pendoa syafaat yang sangat kuat— peran yang sangat mirip dengan Maria, ibu Yesus, dalam tradisi Katolik dan Ortodoks—adalah karena penderitaan luar biasa yang dialaminya. Bahkan penderitaannya dipandang terus berlanjut karena hanya dia yang tidak dimakamkan di tempat paling suci bagi bangsa Yahudi, yaitu Gua Para Leluhur di Hebron. Abraham, Sara, Ishak, Ribka, Yakub, dan Lea dimakamkan bersama di sana, tetapi Rahel tidak. Hal ini bukanlah bentuk pengabaian ilahi. Sebaliknya, ini merupakan bagian dari pemeliharaan Allah yang misterius dan menyakitkan. Rahel ditempatkan di jalan menuju Betlehem agar suaranya dapat didengar, agar air matanya menjadi suara bagi semua orang yang menderita. Keterpisahannya dari gua itu justru membuatnya hadir di tengah hati umat Allah yang berduka.

Nabi Yeremia kemudian menggambarkan Rahel menangisi anak-anaknya yang dibuang ke pembuangan: “Dengarlah! Di Rama terdengar ratapan, tangis yang pahit pedih; Rahel menangisi anak-anaknya…” (Yer. 31:15, TB). Air mata Rahel menjadi simbol harapan penebusan yang kekal bagi bangsa Yahudi. Begitu kuatnya gambaran ini sehingga Injil Matius menghubungkan pembunuhan anak-anak laki-laki oleh Raja Herodes dengan ratapan Rahel, sehingga penderitaannya menjadi lambang kesedihan semua ibu sepanjang sejarah keselamatan (Mat. 2:16–18). Bagi orang percaya masa kini, pesan ini sangat penting: air mata Anda tidak pernah sia-sia. Air mata itu didengar di surga. Rahel mengajarkan bahwa dukacita bukanlah kegagalan iman, melainkan salah satu bahasa iman. Allah tidak mengabaikan kesedihan kita; Ia memperhatikannya dan menyimpannya.

Dalam Yudaisme bahkan menceritakan sebuah kisah imajinatif namun sarat makna. Ketika Abraham, Ishak, Yakub, dan Musa datang menghadap Allah untuk memohon belas kasihan bagi bangsa Israel yang akan dibawa ke pembuangan Babel, Allah menolak setiap permohonan mereka. Namun ketika Rahel berseru, Allah mendengarkan doanya. Mengapa Rahel? Karena ia mengenal penderitaan dari dalam. Para leluhur itu besar dan agung, tetapi Rahel adalah seorang yang remuk hatinya. Dan Allah, dalam belas kasihan-Nya, cenderung mendengarkan dengan penuh perhatian kepada mereka yang hancur hatinya. Hal ini menjadi penghiburan yang luar biasa bagi siapa pun yang merasa terlalu terluka untuk berdoa. Justru kehancuran hati Anda menjadi alasan mengapa Allah mendengarkan.

Dosa Ruben

Yakub melanjutkan perjalanannya dan mendirikan kemah di dekat Menara Eder (Kej. 35:21). Ia sedang tenggelam dalam kesedihan, kekecewaan, dan kelelahan. Lalu datanglah sebuah pelanggaran yang tak terbayangkan dari Ruben, anak sulungnya sendiri—orang yang seharusnya menerima hak kesulungan dan memimpin keluarga. Teks Alkitab menyatakan dengan lugas:

“Ketika Israel diam di negeri itu, terjailah bahwa Ruben sampai tidur dengan Bilha, gundik ayahnya; dan kedengaranlah hal itu kepada Israel.” (Kej. 35:22, TB)

Salah satu hal yang menarik dari bagian ini dan banyak bagian lain dalam Alkitab adalah bahwa Alkitab, khususnya Taurat, tidak menyembunyikan kegagalan moral para tokoh utamanya. Pelajarannya sangat serius: dosa tidak membatalkan rencana penebusan Allah. Sebaliknya, Allah bekerja melalui manusia yang penuh cacat dan kelemahan. Kelemahan manusia tidak menghancurkan perjanjian Allah; meskipun mereka melakukan dosa-dosa besar, mereka tetap berada dalam lingkup iman. Inilah salah satu hal pertama yang perlu dipahami oleh jemaat awam: Alkitab bukanlah galeri orang-orang kudus yang sempurna dengan lingkaran cahaya di atas kepala mereka. Alkitab lebih mirip ruang gawat darurat. Jika para tokohnya sempurna, kita tidak akan menemukan tempat bagi diri kita sendiri di dalam kisah itu. Namun karena mereka berantakan seperti kita, kita dapat melihat diri kita di dalam mereka dan menyadari bahwa Allah tidak meninggalkan kita.

Motivasi Ruben tidak dijelaskan secara langsung, tetapi tindakannya kemungkinan bersifat politis sekaligus hawa nafsu. Dalam budaya Timur Dekat Kuno, mengambil gundik ayahnya  merupakan tindakan yang menyatakan klaim atas suksesi/warisan kepemimpinan. Ruben adalah anak Lea, istri yang kurang dikasihi, sementara Bilha adalah pelayan Rahel, istri yang sangat dikasihi Yakub. Dengan tidur bersama Bilha, Ruben mungkin berusaha mencegah peningkatan pengaruh keluarga Rahel dan mempertahankan posisi keluarga Lea. Namun di balik ambisi politik itu terdapat luka yang lebih dalam. Ruben merasa tidak aman. Ia melihat ayahnya lebih mengasihi Yusuf, anak Rahel. Tindakannya merupakan upaya putus asa untuk meraih perhatian dan kekuasaan—seakan-akan ia sedang berteriak, “Aku juga penting!” Hal ini tentu tidak membenarkannya, tetapi membantu kita memahami dirinya. Disfungsi keluarga sering kali merupakan penyakit yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sikap pilih kasih Yakub menciptakan lingkungan yang memungkinkan terjadinya pengkhianatan Ruben.

Yakub menganggap tindakan itu sebagai penghinaan besar terhadap otoritas dan kehormatannya. Karena itu Ruben kehilangan hak kepemimpinannya. Dalam berkat terakhirnya, Yakub mengenang peristiwa itu dengan kata-kata yang keras:

“Engkau yang membual sebagai air, tidak lagi engkau yang terutama, sebab engkau telah menaiki tempat tidur ayahmu; waktu itu engkau telah melanggar kesuciannya.” (Kej. 49:4, TB)

Namun perhatikan sesuatu yang penting. Ruben kehilangan keutamaannya, tetapi tidak kehilangan tempatnya dalam keluarga. Ia tetap menjadi anak, tetap menjadi salah satu suku Israel, dan tetap termasuk dalam perjanjian Allah. Dosanya membawa konsekuensi. Kepemimpinan hilang. Kepercayaan rusak. Namun dosanya tidak menjadi kata terakhir tentang identitasnya dalam keluarga Allah. Inilah kasih karunia yang luar biasa: kita mungkin kehilangan posisi, tetapi tidak kehilangan tempat di meja perjamuan Allah.

Untuk pertama kalinya dalam Alkitab, pasal ini memberikan daftar yang jelas dan sistematis mengenai istri-istri Yakub dan anak-anak mereka:

“Adapun anak-anak lelaki Yakub dua belas orang jumlahnya. Anak-anak Lea ialah Ruben, anak sulung Yakub, kemudian Simeon, Lewi, Yehuda, Isakhar dan Zebulon. Anak-anak Rahel ialah Yusuf dan Benyamin. Dan anak-anak Bilha, budak perempuan Rahel, ialah Dan serta Naftali. Dan anak-anak Zilpa, budak perempuan Lea ialah Gad dan Asyer. Itulah anak-anak lelaki Yakub, yang dilahirkan baginya di Padan-Aram.” (Kej. 35:22b–26, TB)

Harapan Melalui Yehuda

Jika bagian ini dibaca dalam konteks bersama pasal-pasal sebelumnya, maka dapat diperoleh satu kesimpulan. Karena Ruben didiskualifikasi dari kepemimpinan keluarga, dan karena Simeon serta Lewi juga kehilangan hak tersebut akibat keterlibatan mereka dalam pembantaian di Sikhem (Kejadian 34), maka orang berikutnya dalam garis kepemimpinan adalah Yehuda. Inilah yang menjadi latar bagi nubuat Yakub:

“Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda ataupun lambang pemerintahan dari antara kakinya, sampai dia datang yang berhak atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa.” (Kej. 49:10, TB)

Inilah harapan bagi keluarga yang disfungsional: ketika satu pilar runtuh, Allah membangkitkan yang lain. Menariknya, Yehuda sendiri bukanlah tokoh yang sempurna. Kelak ia yang mengusulkan agar Yusuf dijual sebagai budak dan juga tidur dengan Tamar, menantunya sendiri, karena mengira ia seorang pelacur (Kejadian 38). Allah tidak memilih Yehuda karena ia paling saleh. Allah memilihnya karena Dia berdaulat. Garis keturunan Mesias tidak datang melalui anak yang sempurna, melainkan melalui seseorang yang penuh kegagalan tetapi tetap berada dalam perjanjian Allah. Inilah harapan terbesar bagi setiap orang percaya: tujuan Allah tidak bergantung pada kesempurnaan kita, melainkan pada kesetiaan-Nya.

Setiap anak Yakub memiliki kisahnya sendiri dan masing-masing berkontribusi bagi sejarah Israel. Yang mengagumkan, anak-anak Bilha dan Zilpa tidak diperlakukan sebagai warga kelas dua. Mereka menjadi bagian penuh dari keluarga Yakub, menerima warisan, dan menjadi bapa-bapa suku Israel. Berabad-abad kemudian, Rasul Paulus berbicara tentang karya Allah yang menghapus marginalisasi. Melalui Yesus Kristus dan Roh-Nya, Allah mempersatukan orang Yahudi dan bangsa-bangsa lain, laki-laki dan perempuan, budak dan orang merdeka (Gal. 3:28; Kol. 3:11; 1 Kor. 12:13). Di dalam Kristus, perbedaan masa lalu tidak dihapuskan, tetapi dilampaui. Bahkan keturunan Lewi—yang pernah terlibat dalam kekerasan di Sikhem—tidak dikecualikan dari keagungan. Hal ini mengantisipasi kisah pengkhianatan Petrus dan bagaimana Kristus tetap mempercayakan tugas kepadanya untuk menggembalakan domba-domba-Nya (Yoh. 21:15–17). Inilah Injil dalam bentuk miniatur: Allah mengambil mereka yang tersisih dan menjadikan mereka ahli waris. Ia mengambil pengkhianat dan menjadikannya gembala. Tidak ada seorang pun yang berada di luar jangkauan rencana penebusan-Nya.

Pemakaman Ishak

Pasal 35 berakhir dengan kembali menyoroti Ishak, ayah Yakub. Teks menuliskan bahwa anak-anaknya menguburkannya. Kemungkinan besar Yakub dan Esau—yang dahulu bermusuhan—kini berdiri bersama dalam dukacita, sebagaimana Ishak dan Ismael dahulu menguburkan Abraham. Saudara yang pernah terpisah kini dipersatukan oleh dukacita atas wafatnya ayah mereka yang sudah lanjut usia dan tidak sempurna. Kesedihan memiliki kuasa yang aneh : Ia mampu melakukan apa yang gagal dilakukan oleh pertengkaran bertahun-tahun. Ia dapat mendamaikan permusuhan, melunakkan hati yang keras, dan membuka jalan menuju rekonsiliasi. Kematian seorang ayah menjadi kesempatan bagi pemulihan hubungan anak-anaknya. Bahkan di tengah kehilangan, Allah sedang menenun benang-benang kesembuhan yang belum dapat kita lihat sepenuhnya.

Namun pasal ini bukanlah akhir kisah Yakub karena Yusuf masih hidup di Mesir sebagai budak, tanpa diketahui ayahnya. Perjanjian telah diteguhkan kembali, tetapi keluarga itu masih retak. Kematian Rahel, dosa Ruben, usaha pembunuhan terhadap Yusuf, dan akhirnya penjualan Yusuf sebagai budak, semuanya akan terungkap dalam salah satu narasi terpanjang dan paling mengharukan dalam Kitab Kejadian: kisah Yusuf dan saudara-saudaranya. Pasal ini tidak berakhir dengan titik, melainkan dengan koma. Kisahnya belum selesai. Demikian juga kisah Anda. Kekacauan masih ada, tetapi demikian pula tangan Allah yang terus membimbingnya.

Kesimpulan

Taurat tidak pernah memperhalus atau menyembunyikan kelemahan para tokohnya karena Pahlawan sejatinya adalah Allah yang tetap setia ketika kesetiaan manusia runtuh. Rahel mati, tetapi Benyamin hidup. Ruben jatuh, tetapi Yehuda bangkit. Dukacita melahirkan harapan. Pengkhianatan membuka jalan bagi penebusan.

Ini bukan kisah tentang kesempurnaan moral. Ini adalah kisah tentang kasih karunia yang tidak pernah menyerah—kasih karunia yang mengejar manusia melalui kesedihan, kegagalan, bahkan kematian. Allah tidak menunggu orang-orang sempurna untuk membangun Kerajaan-Nya. Ia memakai para leluhur yang berduka, ibu-ibu yang sedang sekarat, anak-anak yang berkhianat, dan keluarga-keluarga yang retak. Dari puing-puing kehidupan mereka, Ia menenun sebuah perjanjian yang tidak dapat dihancurkan.

Jika Allah dapat menebus keluarga ini, Ia juga dapat menebus keluarga Anda. Kehancuran kita tidak menentukan masa depan kita. Justru kehancuran itulah bahan yang dipakai Allah untuk melakukan penebusan. Pertanyaan satu-satunya adalah: apakah kita akan mempercayainya dan hidup sesuai dengan iman itu. Dan itulah pesan pastoral terakhir: iman bukanlah sekadar persetujuan intelektual; Iman adalah keberanian untuk terus berjalan melewati dukacita, pengkhianatan, dan masa-masa ketika Allah tampak diam, sambil tetap percaya bahwa Tangan yang sama yang menuntun Yakub melalui reruntuhan hidupnya juga sedang menuntun kita. Jangan menyerah. Allahnya Rahel, Allahnya Yehuda, Allah bagi mereka yang hancur dan dikhianati, masih terus menulis kisah-kisah penebusan. Dan Dia belum selesai dengan kisah Anda.

Tinggalkan Balasan

Limit 150 words

Comments (0)