Perang, Alkitab, dan Bangsa
Dapatkan pandangan Alkitab tentang konflik militer.
Dapatkan pandangan Alkitab tentang konflik militer.
Alkitab Ibrani dipenuhi dengan kisah peperangan. Pertempuran demi pertempuran, penaklukan demi penaklukan, musuh dihancurkan dan kota-kota dibakar. Bagi banyak pembaca, hal ini menjadi masalah— sisi penuh kekerasan dari teks yang diharapkan berbicara tentang iman dan spiritualitas. Tetapi bagaimana jika selama ini kita mengajukan pertanyaan yang salah? Bagaimana jika Alkitab penuh dengan perang bukan karena bangsa Israel kuno sangat menyukai kekerasan, dan bukan pula suatu hal yang memalukan yang harus dijelaskan? Bagaimana jika kekerasan itu memiliki tujuan yang belum kita pahami?
Inilah wawasan yang mengubah segalanya: Alkitab penuh dengan perang karena peringatan atas perang adalah cara membentuk sebuah bangsa (Kel. 17:14). Bukan perang itu sendiri—pertempuran nyata, darah dan lumpur—melainkan ingatan tentang perang, kisah-kisah yang diceritakan sesudahnya tentang siapa yang berjuang, siapa yang berkorban, siapa yang ambil bagian, dan siapa yang melarikan diri (Hak. 5:23). Kisah-kisah itu bukan sekadar catatan sejarah; namun kisah-kisah itu membentuk sebuah komunitas.
Pikirkanlah hal ini. Setiap bangsa membutuhkan masa lalu. Sebuah bangsa membutuhkan cerita tentang perjuangan rakyatnya, kemenangan mereka, para sekutu, dan para pengkhianat. Dan tidak ada yang menguji sebuah komunitas seperti halnya perang. Ketika menghadapi ancaman yang mendesak, keputusan yang tegas harus diambil (Ul. 20:8).
Bangsa Tanpa Negara
Di sinilah muncul gagasan yang sangat radikal. Para ahli Taurat yang menyusun Alkitab menemukan sesuatu yang gagal dipahami oleh kebanyakan bangsa kuno: sebuah bangsa dapat muncul tanpa adanya negara (Mzm. 137:1–4). Negara memiliki perbatasan, tentara, dan raja. Negara bisa ditaklukkan. Bangsa Asyur dan Babel sangat ahli dalam menaklukkan negara. Mereka menghancurkan kerajaan Israel pada tahun 722 SM dan Yehuda pada tahun 587 SM. Seharusnya itu menjadi akhir dari bangsa Israel sebagai sebuah bangsa.
Tetapi ternyata tidak demikian. Sebab para penulis Alkitab—terutama selama dan sesudah pembuangan—membangun sebuah identitas yang tidak bergantung pada takhta, tentara, bahkan wilayah sekalipun (Yer. 29:4–7).
Firman Allah dan kisah-Nya adalah sesuatu yang dapat dibawa ketika tanah tidak lagi bisa dibawa. Bangsa itu bertahan meskipun kehilangan kedaulatan karena sejak awal bangsa itu tidak hanya bicara tentang kedaulatan.
Rahab vs. Orang Gibeon
Rahab adalah seorang pelacur di Yerikho, seorang perempuan Kanaan di pinggiran kota yang sudah ditentukan untuk binasa. Apapun yang terjadi, ia seharusnya ikut dihancurkan ketika bangsa Israel menaklukkan kota itu. Tetapi hal itu tidak terjadi. Ia menyembunyikan para pengintai Israel dan berbohong kepada raja, mempertaruhkan bukan saja nyawanya sendiri tetapi juga nyawa keluarganya (Yos. 2:1–7). Karena itulah ia dan keluarganya diselamatkan. Pada akhirnya ia tinggal “di tengah-tengah orang Israel” (Yos. 6:25).
Sebaliknya, orang Gibeon menipu bangsa Israel. Mereka berpura-pura menjadi pengembara dari negeri jauh supaya orang Israel mau mengikat perjanjian damai dengan mereka (Yos. 9:3–15). Di sinilah perbedaan pentingnya: Rahab berbohong demi bangsa Israel, dengan risiko pribadi yang sangat besar sedangkan orang Gibeon berbohong kepada Israel demi keselamatan diri mereka sendiri.
Rahab tidak memiliki keuntungan apa pun malah justru beresiko kehilangan segalanya. Ia berdiri di pihak yang akan kalah—Yerikho akan segera jatuh. Namun ia memilih berpihak kepada bangsa Israel, mengakui imannya kepada Allah yang empunya langit dan bumi (Yos. 2:11), dan mengambil resiko kematian di tangan rajanya sendiri. Itulah keberanian. Itulah solidaritas. Itulah sebabnya ia diselamatkan dan akhirnya dihormati dalam kisah bangsa Israel (Yak. 2:25; Mat. 1:5).
Namun, orang Gibeon bertindak semata-mata untuk melindungi diri mereka sendiri. Mereka tidak menunjukkan kesetiaan, pengorbanan, ataupun keberanian mengambil risiko. Mereka menipu bangsa Israel supaya melindungi mereka tanpa pernah membuktikan diri dalam ujian perang. Karena itulah mereka dikutuk menjadi pemotong kayu dan penimba air, selamanya berada di bawah Israel (Yos. 9:22–27).
Perbedaan antara Rahab dan orang Gibeon adalah perbedaan antara keberanian dan kepengecutan, antara solidaritas sejati dan manipulasi yang mementingkan diri sendiri. Alkitab menyampaikan sebuah poin yang tajam: cara seseorang hadir ketika situasi genting menentukan di mana ia benar-benar berada.
Namun tragedi yang lebih parah adalah bangsa Israel tidak meminta petunjuk Tuhan sebelum membuat perjanjian itu (Yos. 9:14)—sebuah peringatan bahwa hikmat dan kepekaan rohani sama pentingnya dengan keberanian.
Apa yang Sebenarnya Ditawarkan Alkitab
Model kebangsaan dalam Alkitab tidak bisa disederhanakan menjadi nasionalisme modern yang hanya berakar pada darah dan tanah. Identitas itu bukan semata-mata soal kemurnian etnis—Rahab dan Rut (Rut 1:16) berasal dari luar Israel. Identitas itu berbicara tentang kisah, hukum, dan kesediaan untuk ikut serta dan berjuang: memiliki masa lalu bersama, sebuah konstitusi bersama (Ul. 31:9–13), dan komitmen untuk berkorban bagi satu sama lain. Intinya adalah kebenaran ini: definisi suatu bangsa bukanlah wilayah yang mereka kuasai, melainkan perjanjian yang mereka pelihara.
Perang, Israel, dan Yesus
Yesus mewarisi kisah tentang sebuah bangsa yang didefinisikan bukan hanya oleh tanah, tetapi oleh perjanjian, memori, dan perang-perang kudus bangsa Israel di mana Allah sendiri yang berperang bagi bangsa-Nya. Namun Yesus tidak meninggalkan kisah itu—Ia menggenapinya dan memperdalamnya, dengan menyatakan sebuah peperangan yang jauh lebih radikal daripada pedang dan kereta perang. Ia adalah Raja yang membela umat-Nya dari musuh terbesar mereka—dosa, maut, dan kuasa-kuasa kegelapan.
Peperangan bangsa Israel pada akhirnya selalu merupakan peperangan TUHAN: Dialah yang berperang bagi mereka melawan Mesir, melawan para penindas mereka, dan melawan segala kemungkinan yang mustahil. Yesus menyatakan bahwa musuh yang sesungguhnya bukan hanya tentara manusia, melainkan kuasa pemberontakan di balik mereka—iblis dan kerajaannya. Ketika Yesus memperingatkan tentang peperangan dan kabar-kabar tentang perang (Mrk. 13:7), Ia tidak menyangkali realita adanya konflik yang penuh kekerasan; Ia memberi kerangka baru untuk memahaminya. Pertempuran yang menentukan adalah pertempuran rohani. Dan melalui kebangkitan-Nya, Yesus menang di mana tidak ada pejuang duniawi yang mampu melakukannya: Ia mengalahkan maut itu sendiri, melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, dan membawa tawanan-tawanan (Kol. 2:15).
Kesimpulan
Alkitab Ibrani tidak memuliakan perang; Alkitab mengubah cara kita memandangnya. Apa yang tampak seperti kekerasan kuno sebenarnya adalah cetak biru bagi sebuah kebenaran yang tak tergoyahkan: bangsa-bangsa dibentuk bukan oleh batas-batas tanah, melainkan oleh memori dan perjanjian. Ketika kerajaan-kerajaan besar menghancurkan negara Israel, para ahli Taurat menemukan sesuatu yang revolusioner—identitas dapat bertahan bahkan ketika tanah mereka hilang. Rahab membuktikan bahwa keberanian dan solidaritas lebih penting daripada garis keturunan. Orang Gibeon membuktikan bahwa mempertahankan diri tanpa pengorbanan hanya akan membawa pada ketertundukan.
Orang-orang yang menulis kata-kata ini kehilangan segalanya—Bait Suci, raja, tentara—namun mereka tidak lenyap. Mereka mengingat. Mereka memelihara kisah itu. Dan di dalam Yesus, Sang Pejuang sejati mengalahkan bukan tentara manusia, melainkan maut itu sendiri.
Jadi jangan bertanya apakah kamu akan memenangkan setiap pertempuran. Sebaliknya, tanyakanlah: apakah kamu akan ambil bagian ketika itu benar-benar penting?
Tidak ada kerajaan, kuno maupun modern, yang memiliki kata akhir. Allah yang memilikinya.
Comments (0)
No comments yet.