Perempuan Muda yang Seperti Abraham
Temukan Bagaimana Abraham Memastikan bahwa Ishaknya tetap Memegang Iman.
Temukan Bagaimana Abraham Memastikan bahwa Ishaknya tetap Memegang Iman.
Dalam Kejadian 24, sebelum meninggal, Abraham yang telah lanjut usia masih memiliki satu kekhawatiran terakhir: mencari seorang istri bagi Ishak yang akan menjaga janji Allah. Ujian kesepuluh—pengikatan Ishak dalam Kejadian 22—telah berlalu. Fokus Abraham sekarang jelas: Ishak tidak boleh menikahi perempuan Kanaan atau kembali ke tanah asal Abraham untuk tinggal di sana secara permanen. Abraham memanggil hambanya yang paling dipercaya untuk memastikan bahwa Ishak tetap berjalan dalam janji Allah.
Tradisi Yahudi menyebut nama hamba itu Eliezer (lihat Kej. 15:2), tetapi teks Alkitab tidak menyebutkan namanya secara langsung (kisah ini cocok dengan keinginan Abraham sebelumnya untuk memberikan seluruh miliknya kepada Eliezer jika ia tidak memiliki anak). Kata Ibrani עֶבֶד (eved) memiliki arti lebih dari sekadar “hamba.” Kata ini juga dapat berarti “budak/pelayan,” yang menyiratkan ikatan kesetiaan dan tujuan bersama. Abraham memerintahkan hambanya pergi ke rumah Nahor, saudaranya, di Padan Aram (פַּדַּן אֲרָם). Di kemudian hari, Yakub, anak Ishak, juga akan kembali ke “rumah yang jauh dari rumah” ini ketika orang tuanya menyuruhnya melarikan diri dari kemarahan Esau (Kej. 27:42–43; 28:5).
Kisah ini merupakan narasi berkelanjutan terpanjang dalam Taurat (tetapi tenang saja, artikel ini tidak akan sepanjang itu). Abraham menyuruh hambanya bersumpah demi TUHAN Allah:
“engkau tidak akan mengambil untuk anakku seorang isteri dari antara perempuan Kanaan yang diantaranya aku diam. Tetapi engkau harus pergi ke negeriku dan kepada sanak saudaraku untuk mengambil seorang isteri bagi Ishak, anakku” (Kej. 24:3–4).
Sang hamba secara wajar mengajukan keberatan:
“Mungkin perempuan itu tidak suka mengikuti aku ke negeri ini; haruskah aku membawa anakmu itu kembali ke negeri dari mana tuanku keluar ?” Tetapi Abraham berkata kepadanya : “Awas, jangan kau bawa anakku itu kembali ke sana. TUHAN, Allah yang empunya langit, yang telah memanggil aku dari rumah ayahku serta dari negeri sanak saudaraku, dan yang telah berfirman kepadaku, serta yang bersumpah kepadaku, demikian: kepada keturunanmulah akan Kuberikan negeri ini… Tetapi jika perempuan itu tidak mau mengikut engkau, maka lepaslah engkau dari sumpahmu kepadaku ini; hanya saja, janganlah anakku itu kaubawa kembali ke sana” (Kej. 24:5–8).
Doa Sang Hamba Meminta Tanda
Kisah ini tidak menceritakan perjalanan panjang selama berminggu-minggu dan langsung memperlihatkan bagaimana hamba itu berusaha memahami kehendak Allah:
“TUHAN, Allah tuanku Abraham, buatlah kiranya tercapai tujuanku pada hari ini, tunjukkanlah kasih setia-Mu (חֶסֶד, chesed) kepada tuanku Abraham.” (Kej. 24:12)
Chesed adalah salah satu kata Ibrani yang paling sulit diterjemahkan. Kata ini tidak hanya berarti “kebaikan hati,” tetapi juga “kesetiaan perjanjian” atau “kasih yang teguh dan setia.” Hamba itu tidak sedang meminta keberuntungan saja; sebaliknya ia meminta Allah bertindak berdasarkan kasih setia-Nya untuk garis keturunan perjanjian Abraham, karena Allah terikat pada janji-Nya sendiri.
“Di sini aku berdiri di dekat mata air (עֵין, ayin), dan anak-anak perempuan penduduk kota ini datang keluar untuk menimba air. Kiranya terjadilah begini: anak perempan (נַעֲרָה, na’arah) yang kepada siapa aku berkata: Tolong miringkan buyungmu itu, supaya aku minum, dan yang menjawab: Minumlah, dan unta-untamu juga akan kuberi minum—dialah kiranya yang Kautentukan bagi hamba-Mu Ishak; maka dengan begitu akan kuketahui, bahwa Engkau telah menunjukkan kasih setia-Mu (chesed) kepada tuanku itu” (Kej. 24:13–14).
Keramahtamahan Ribka yang Radikal
Sebelum hamba itu selesai berdoa, ia melihat Ribka, cucu Nahor, kakak Abraham. Ketika ia meminta: “Tolong beri aku minum air sedikit dari buyungmu itu.” Jawabnya : “Minumlah, tuan.” maka segeralah diturunkannya buyungnya itu ke tangannya, serta diberinya dia minum. Setelah ia selesai memberi hamba itu minum, berkatalah ia : “Baiklah untuk unta-untamu juga kutimba air, sampai semuanya puas minum” (Kej. 24:17–19). Ia segera menuangkan isi buyungnya ke palungan dan berlari kembali ke sumur untuk menimba air bagi semua unta itu. Pilihan ujian yang diberikan sang hamba sangat penting. Dari banyak kemungkinan, ia memilih ujian berupa keramahtamahan yang radikal dan proaktif. Ia memahami bahwa agar pernikahan ini berhasil, calon istri Ishak harus memiliki hati yang sama seperti Abraham dan Sara. Narasi sebelumnya menceritakan bagaimana Abraham dan Sara menyambut tiga orang asing dengan hangat (Kej. 18:1–8).
Abraham melakukan lebih dari yang diminta untuk tiga orang asing itu. Ribka melakukan hal yang sama. Ia melayani dengan sukarela, meskipun para pelayan hamba itu sebenarnya dapat melakukannya. Ia bukan hanya memperhatikan orang asing itu, tetapi juga memastikan unta-untanya mendapatkan air. Kata kerja Ibrani תָּבֹא (tavo, “ia datang”) berdenyut di sepanjang pasal ini seperti detak jantung. Ia datang ke sumur untuk menimba air dan untuk menemui orang asing itu. Ribka tidak pernah berhenti bergerak. Dalam kitab Kejadian, iman selalu diwujudkan melalui tindakan, dan Ribka menunjukkan imannya dengan langkah kakinya.
Namun tavo bukan satu-satunya kata kerja yang penting. Ribka juga “berlari” (רָצָה, ratzah) tiga kali berturut-turut (Kej. 24:20, 28, 29). Ia berlari untuk mengosongkan buyungnya, berlari kembali ke sumur, dan berlari kembali kepada keluarganya. Satu-satunya tokoh lain dalam Kitab Kejadian yang berlari adalah Abraham dalam Kejadian 18, ketika ia berlari menyambut tiga orang yang tidak dikenalnya. Ribka tidak sekadar melayani; ia berlari menuju orang asing itu.
Sebagai ungkapan terima kasih, hamba itu memberikan perhiasan kepada Ribka dan menanyakan siapa ayahnya serta apakah keluarganya mempunyai tempat untuk menginap. Jawabannya menunjukkan keyakinan yang besar: “Ayahku Betuel, anak Milka, yang melahirkannya bagi Nahor.” Lagi kata gadis itu : Baik jerami, baik makanan unta banyak pada kami, tempat bermalam pun ada” (Kej. 24:24–25). Sekali lagi, jawabannya memperlihatkan komitmennya terhadap keramahtamahan.
Munculnya Laban dan Pengulangan Kisah
Sebagai seorang perempuan muda, Ribka mengundang orang asing untuk menginap dan beristirahat, meskipun ia belum menikah. Kemudian ia menceritakan kejadiannya kepada saudara laki-lakinya, Laban (לָבָן), dan ibunya, Milka. Laban segera berlari keluar ketika ia melihat hadiah-hadiah mahal yang dipakai saudara perempuannya. Ini menjadi petunjuk awal mengenai sifat tamak yang nantinya akan menyusahkan Yakub, anak Ribka (Kej. 29–31). Istilah Ibrani נַעֲרָה (na’arah – digunakan dalam Kej. 24:14,16,55,57) untuk menekankan masa muda dan status sebagai perempuan yang siap menikah; בְּתוּלָה (betulah – 24:16) menekankan keperawanan yang dipasangkan dengan na’arah; sedangkan עַלְמָה (almah – 24:43) bermakna seorang perempuan muda dalam usia subur.
Hamba Abraham kemudian menceritakan kembali seluruh kisah itu dan bagaimana doanya kepada TUHAN telah dijawab melalui tanda yang menunjukkan bahwa Ribka dipilih bagi Ishak. Saudara laki-laki dan ibunya (mungkin ayahnya sakit atau telah meninggal) menyatakan dukungan mereka. Ketika hamba Abraham mendengar hal itu, ia sujud menyembah TUHAN. Ia juga memberikan barang-barang perak dan emas, pakaian, serta berbagai hadiah berharga kepada Ribka, juga barang berharga kepada saudara laki-laki dan ibunya.
Kemudian hamba itu dan orang-orang yang bersamanya makan, minum, dan bermalam di sana. Pada pagi harinya hamba itu meminta izin untuk kembali kepada tuannya (Kej. 24:52–54). Laban ingin Ribka tinggal sepuluh hari lagi sebelum berangkat, tetapi hamba Abraham bersikeras agar mereka berangkat keesokan harinya. Mungkin Abraham sudah mendekati ajalnya, dan hamba itu ingin membawa kabar baik bahwa ia telah menemukan seorang istri bagi Ishak yang bersedia tinggal di Kanaan, tetapi bukan perempuan Kanaan.
Jawaban “Ya” Ribka yang Mandiri
Mereka menanggapi dan berkata: “Baiklah kita panggil anak gadis itu dan menanyakan kepadanya sendiri” פִּיהָ (piha, “mulutnya”) (Kej. 24:57). Ungkapan bahasa Ibrani “menanyakan mulutnya” (שָׁאַל אֶת־פִּיהָ, sha’al et piha) tidak umum dipakai; secara harfiah berarti “bertanya kepada mulutnya.” Ungkapan ini menekankan bahwa persetujuan lisan Ribka bukan sekadar formalitas; perkataannya sendiri menentukan masa depannya. Dalam budaya yang sangat patriarkal, kisah ini berhenti sejenak untuk menghormati jawaban “ya” yang lahir dari keputusannya sendiri.
Lalu mereka memanggil Ribka dan bertanya kepadanya: “Maukah engkau pergi beserta orang ini?” Jawabnya: “Mau.” אֵלֵך (elekh, “Aku mau pergi”) (Kej. 24:58). Kata elekh berasal dari akar yang sama dengan lech l’cha (לֶךְ־לְךָ, “Pergilah”) dalam panggilan Allah kepada Abraham di Kejadian 12:1. Gema kata ini disengaja. Jawaban Ribka adalah respons langsung terhadap panggilan Abraham. Abraham meninggalkan rumah ayahnya menuju negeri yang belum dikenalnya (lech l’cha). Sekarang Ribka juga meninggalkan rumahnya, bukan karena Allah berbicara langsung dari surga, melainkan karena ia melihat tangan Allah melalui doa dan kesaksian seorang asing. Elekh Ribka sama dengan tindakan iman lech l’cha Abraham. Dan itulah yang membuktikan bahwa ia adalah istri yang tepat bagi Ishak, putra Abraham. Maka Ribka, saudara mereka itu, dan inang pengasuhnya beserta hamba Abraham dan orang-orangnya dibiarkan mereka pergi. (Kej 24:59)
Ribka dan Kristus
Jawaban “Aku mau pergi” ini tidak hanya menggemakan panggilan Abraham, tetapi juga menunjuk kepada perjalanan yang lebih besar yang akan datang. Sebagaimana Ribka meninggalkan rumah ayahnya untuk dipersatukan dengan anak perjanjian Abraham, demikian juga Anak yang kekal suatu hari akan meninggalkan kemuliaan Bapa-Nya untuk dipersatukan dengan mempelai-Nya di bumi. Pada waktunya, Bapa mengutus bukan seorang hamba, melainkan Anak-Nya sendiri, Yesus, untuk mencari umat bagi nama-Nya dari segala bangsa—bukan melalui paksaan, melainkan melalui ajakan lembut Roh Kudus. Dan ketika Ribka berkata elekh (“Aku mau pergi”), Kristus berkata: “Sesungguhnya Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah” (Ibr. 10:7). Ia berlari menuju kehausan kita, bukan sekadar menawarkan air bagi unta, tetapi air hidup bagi jiwa-jiwa yang letih karena dosa. Di atas salib, Hamba yang menderita itu mencurahkan diri-Nya sendiri (Yes. 53), dan dari kubur yang kosong, Ia berlari mendahului kita ke Galilea untuk menyambut umat-Nya. Bahkan setiap tindakan keramahtamahan dalam Kejadian 24 adalah bayangan Injil: Bapa mempersiapkan Anak, Roh memimpin doa seorang hamba, dan Mempelai menjawab dengan iman, “Datanglah.” Karena Kristus berkata elekh dari surga menuju bumi, setiap orang percaya kini dapat berkata elekh menuju perjamuan kawin Anak Domba di surga.
Kesimpulan
Tantangan kuno ini tidak pernah usang dan masih tetap relevan. Keramahtamahan adalah inti dari kesetiaan perjanjian—tanda Roh Kudus di setiap hati yang ingin hidup bersama Allah. Anda tidak membutuhkan unta atau cincin perunggu. Anda hanya perlu mata yang dapat melihat orang asing yang haus di depan pintu rumah Anda. Segelas air. Sebuah meja yang disediakan. Tempat istirahat bagi seseorang yang lelah.
Jadi, pergilah ke sumurmu. Ketika engkau ingin berjalan, berlarilah. Ucapkan “ya” dengan keras seperti yang diucapkan Ribka: אֵלֵךְ (elekh – Aku mau pergi!). Bukan karena engkau tahu ke mana jalan itu akan membawamu, tetapi karena Janji itu akan berjalan bersama dengan orang-orang yang cukup berani untuk menyambutnya. Dalam setiap tangan yang terulur, surga turun tangan. Dan setiap permulaan yang berani selalu memulai sebuah Awal yang baru.
Comments (0)
No comments yet.