Rahel Yahudi dan Maria Kristen: Bagian 2
Santa Maria dalam tradisi Katolik memiliki peran yang hampir identik dengan Rahel dalam Yudaisme. Terkejut? Mari kita telusuri bagaimana hal…
Santa Maria dalam tradisi Katolik memiliki peran yang hampir identik dengan Rahel dalam Yudaisme. Terkejut? Mari kita telusuri bagaimana hal…
Artikel ini adalah bagian kedua dengan judul yang sama, sekaligus bagian dari sebuah bab dalam buku yang lebih besar The Jewish Roots of Mary: A Different Look at the Iconic Hebrew Woman.
Maria sebagai Rahel yang Baru
Sejauh ini, kita telah melihat bahwa dalam pemikiran Yahudi kuno, konsep “jasa para leluhur” (merits of the fathers) tidak hanya mencakup para bapa, tetapi juga para ibu iman. Kita juga telah melihat bagaimana dalam Yudaisme, seorang perempuan memperoleh tempat yang sangat istimewa sebagai pendoa syafaat utama bagi bangsa Israel. Namanya adalah Rahel, dan ia mendapatkan reputasi tersebut karena di antara semua perempuan—terlebih di antara para ibu leluhur Israel—penderitaan dan tragedi yang ia alami begitu unik.
Lebih jauh lagi, teks Alkitab utama yang menjadi pusat berbagai refleksi dan imajinasi religius adalah Yeremia 31:15, di mana sang nabi menyatakan bahwa meskipun Rahel telah meninggal, entah bagaimana ia terus bersyafaat bagi anak-anak Israel yang berada dalam pembuangan, dengan kuasa yang begitu besar sehingga suaranya terdengar jelas oleh Allah Israel.
Injil Matius, pada bagian awalnya, menceritakan kisah kelahiran Yesus dan bagaimana Ia selamat pada masa awal hidup-Nya. Ini adalah kisah yang sangat terkenal dan telah berulang kali diceritakan, sehingga tidak perlu diulang secara rinci di sini. Karena itu, kita akan langsung masuk ke satu titik penting dalam kisah tersebut: ketika Herodes mengetahui bahwa kemungkinan besar di sebuah kota kecil bernama Betlehem telah lahir seseorang yang suatu hari nanti akan menjadi raja Israel (Matius 2:1–2). Mendengar hal itu, Herodes bertindak dengan tegas dan kejam.
Hal penting yang perlu dipahami adalah bahwa Betlehem selain sangat dekat dengan Yerusalem, juga telah lama dikenal dalam beberapa kalangan sebagai tempat kelahiran Kristus, Raja Israel. Jika Yesus lahir di tempat lain, bukan Betlehem atau setidaknya bukan di wilayah Yudea, mungkin Herodes tidak akan begitu khawatir. Nama Betlehem sendiri sudah menjadi tanda bahaya dalam pikirannya, dan kecurigaannya diperkuat oleh para penasihat rohani yang memiliki pengetahuan yang ia butuhkan (Matius 2:4–6).
Ketika para majus—kelompok orang terpelajar dari Timur yang ahli dalam astronomi, astrologi, dan ilmu alam—mengatakan bahwa mereka telah melihat bintang-Nya, Herodes menjadi paranoid, sebagaimana lazimnya seorang penguasa yang takut kehilangan kekuasaan. Ia memahami bahwa apa pun yang dianggap berasal dari surga tidak akan tunduk pada kendali pemerintah.
Herodes sebenarnya sama sekali tidak percaya bahwa Mesias, Raja Israel yang dinantikan, telah lahir di Betlehem. Namun, ia tahu bahwa jika kisah para majus dari Timur ini tersebar luas—dengan semua unsur yang dapat membentuk legenda—hal itu akan memicu spekulasi mesianik yang dapat mengancam posisinya atau garis keturunannya di takhta. Karena itu, Herodes memerintahkan pembunuhan massal terhadap semua anak laki-laki berusia di bawah dua tahun di wilayah Betlehem, untuk memastikan bahwa ancaman tersebut benar-benar dihapuskan. Kita membaca dalam Injil Matius:
“Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia: Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi.” (Matius 2:17–18)
Malaikat Tuhan kemudian menampakkan diri kepada Yusuf dan memerintahkannya untuk membawa Maria dan Yesus keluar dari Yudea menuju tanah Mesir. Inilah pertama kalinya syafaat Rahel dari Yeremia 31:15 dihubungkan secara langsung dengan apa yang dialami Maria dalam Matius 2.
Brant Pitre menggabungkan komitmen Katoliknya dengan penelitian dalam studi Yahudi dengan sangat baik. Ia mempopulerkan gagasan yang sebenarnya telah disampaikan oleh para peneliti sebelumnya—bahwa Maria adalah padanan Perjanjian Baru dari Rahel dalam Perjanjian Lama. Dalam bukunya Jesus and the Jewish Roots of Mary, Pitre mengusulkan tiga hubungan utama antara Maria dan Rahel:
Pertama, pembunuhan bayi terjadi di sekitar makam Rahel. Maria melahirkan sangat dekat dengan makam tersebut (di Betlehem). Kedua, syafaat Rahel dikutip secara eksplisit dalam Matius 2:17–18, sehingga penulis Injil Matius jelas melihat adanya hubungan. Ketiga, baik Rahel maupun Maria mengalami penderitaan karena identitas dan tujuan ilahi dalam kehidupan anak mereka masing-masing—Yusuf dan Yesus. Pitre mengutip David Flusser, salah satu pelopor studi tentang Yesus Yahudi dari the Hebrew University of Jerusalem :
“Dalam Injil Matius, Rahel adalah figur simbolis bagi ibu yang menderita, dalam hal ini ibu Yahudi yang menderita. Dan kesedihan Rahel atas anak-anak yang meninggal juga melambangkan penderitaan Maria terkait dengan anaknya yang mulia.”
Ia juga mengutip Jacob Neusner, yang bisa dibilang sebagai cendekiawan Yahudi paling produktif dalam beberapa tahun terakhir, yang menegaskan bahwa Maria dalam tradisi Katolik harus dilihat dalam kaitannya dengan Rahel dalam tradisi Yahudi:
“Itulah sebabnya saya dapat melihat bahwa dalam Maria Kristen, terdapat seorang Rahel Katolik, yang doanya diperhitungkan ketika doa para bapa leluhur, tokoh besar dunia tidak lagi berdaya… Tidak heran ketika Rahel menangis, Allah mendengarkan. Maka, tidaklah sulit bagi saya menemukan dalam diri Maria sahabat penuh simpati yang dikenal oleh umat Katolik selama 2.000 tahun! Jadi, ya, jika Rahel, mengapa tidak Maria?”
Brant Pitre menulis:
“Pada tingkat manusia, mudah membayangkan Maria menangis bukan hanya karena penganiayaan dan pembuangan anaknya, tetapi juga karena semua anak laki-laki yang dibunuh dalam upaya membunuh anaknya.”
Tanggapan Pribadi
Lalu, apa pendapatku tentang semua ini?! Meskipun saya bersimpati terhadap karya Brant Pitre, saya belum sepenuhnya diyakinkan bahwa Pitre, Flusser, dan Neusner benar dalam melihat hubungan yang mereka ajukan antara Matius 2 dan Yeremia 31. Sejauh ini, yang dapat kita simpulkan dengan pasti dari Matius 2 adalah bahwa Rahel, ibu leluhur Israel, sangat terlibat dalam doa syafaat bukan hanya untuk orang-orang Yahudi yang diasingkan ke Babel, tetapi juga untuk anak-anak laki-laki Yahudi yang dibunuh oleh tentara Herodes pada masa bayi Yesus. Apakah Maria digambarkan sebagai padanan Perjanjian Baru dari Rahel Perjanjian Lama atau tidak, tidak dapat disimpulkan dari Injil Matius pasal 2 ini.
Saya tetap terbuka terhadap kemungkinan bahwa bukti lain— tidak hanya bergantung pada kutipan Yeremia 31 dalam Matius—dapat menunjukkan hubungan yang lebih kuat antara Maria dan Rahel. Namun untuk saat ini, menurut saya hubungan tersebut masih belum pasti.
Seberapa pun kuatnya argumen dan kutipan yang disajikan Pitre, saya tetap bersikap terbuka namun belum yakin.
Izinkan saya berhenti sejenak dari pembahasan tentang akar Yahudi Maria dan beralih kepada diskusi tentang Yesus Yahudi untuk menjelaskan keberatan saya terhadap argumen ini. Dalam Injil Matius, Yesus menyampaikan ajaran yang kemudian dikenal sebagai “aturan emas” (golden rule): “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Matius 7:12) Rabbi Hillel, yang menurut tradisi Yahudi hidup beberapa abad sebelum Yesus, dikenal berkata: “Apa yang kamu benci, jangan lakukan kepada sesamamu. Itulah seluruh Taurat; selebihnya adalah penjelasannya—pergilah dan pelajarilah!” (Shabbat 31a)
Kedua pernyataan ini bertujuan merangkum seluruh Taurat—yang mencakup ratusan perintah positif (mitzvot aseh) dan larangan (mitzvot lo ta’aseh)—ke dalam satu prinsip dasar. Kedua pria itu memberikan jawaban yang sama, tetapi Yesus menyatakannya secara positif (apa yang harus dilakukan), sementara Hillel secara negatif (apa yang tidak boleh dilakukan). Namun pada akhirnya, keduanya menyampaikan gagasan yang sama.
Namun, kita tetap perlu bertanya: Bagaimana kita tahu bahwa Yesus mengatakan ini, dan kapan Dia mengatakannya? Kita tahu Dia mengatakannya karena tercatat dalam Injil, dan kita tahu bahwa Injil ditulis sekitar abad pertama. Tetapi bagaimana kita tahu bahwa Hillel mengatakan apa yang dikatakannya? Kita tahu ini karena pernyataan tersebut dicatat dalam Talmud. Ini berarti bahwa dokumen yang darinya kita menyimpulkan identitas orang yang pertama kali dikaitkan dengan “aturan emas” ditulis/dikodifikasi/dibuat setidaknya 400 tahun setelah Yesus! Apakah Anda melihat masalahnya? Ya, Hillel hidup lebih dari 100 tahun sebelum Yesus, tetapi ucapan itu dikaitkan dengan Hillel 400 tahun setelah peristiwa yang dialami Yesus.
Dalam hal ini, mungkinkah Yesus justru pencetus asli “aturan emas,” tetapi karena para pengikut Yesus yang beragama Yahudi sangat terintegrasi ke dalam masyarakat Yahudi lainnya, ajaran ini mungkin diterima ke dalam Yudaisme non-Mesianik melalui mereka? Kita bahkan dapat membayangkan diskusi para rabi awal yang berdebat:
“Siapa yang mengatakan ‘jangan lakukan kepada orang lain apa yang kamu benci’?”
“Sepertinya bukan Shammai, mungkin Hillel?”
“Ya, kemungkinan besar. Mari kita kaitkan ucapan ini dengannya.”
Tidak diragukan lagi, diskusi yang kita bayangkan ini mungkin tidak pernah terjadi. Namun, gagasan bahwa Hillel adalah penulis asli “aturan emas” mungkin memang benar. Akan tetapi, mengingat masalah dengan sumber-sumber kita, hal ini bisa saja terjadi dengan cara yang berbeda.
Namun, ada tafsiran lain di sini, yaitu bahwa Hilel dan Yesus sampai pada kesimpulan yang sama sendiri-sendiri, karena mereka bersumber pada Kitab Suci yang sama! Lagipula, mereka berdua mengambil inspirasi dari sumber yang sama, yaitu tradisi Yahudi kuno. Pada titik ini, Anda mungkin berpikir, “Menarik, tetapi apa hubungannya dengan diskusi kita tentang Maria dan Yudaisme?”. Tetapi bukankah Anda melihat? Ini sangat berkaitan erat.
Masalahnya adalah semua kutipan luar biasa dari tradisi Yahudi yang digunakan Brant Pitre, jika dibandingkan dengan Injil, merupakan sumber yang sangat baru. Terlebih lagi, mungkinkah kesimpulan yang masuk akal adalah bahwa sumber-sumber Yahudi tersebut menjadi bukti praktik yang muncul dalam Yudaisme jauh kemudian sebagai tanggapan terhadap pengagungan Maria dalam teologi Kristen?
Dengan kata lain, identitas Rahel sebagai pendoa syafaat mungkin sebenarnya dipengaruhi oleh perkembangan Mariologi, dan baru didokumentasikan sampai lama setelahnya. Kemungkinan-kemungkinan itu menunjukkan bahwa sumber-sumber Yahudi yang baru memiliki nilai yang sangat terbatas dalam menafsirkan sumber-sumber Yahudi yang lebih awal (seperti Perjanjian Baru). Oleh karena itu, kita seharusnya lebih mengandalkan sumber-sumber Yahudi yang sezaman atau lebih awal dari peristiwa-peristiwa Yesus dalam Injil.
Hal yang sama berlaku untuk kutipan dari dua tokoh besar studi Yahudi – Flusser dan Neusner. Mereka juga dengan indah dan tepat memparalelkan gagasan Yahudi tentang Rachel, ibu leluhur agung Israel dan pendoa syafaat yang kuat, dan Maria, Bunda Yesus dan semua orang Kristen, perantara agung umat beriman, sebagaimana dipahami dan diyakini oleh umat Kristen Katolik di seluruh dunia. Tidak diragukan lagi bahwa Rachel Yahudi dan Maria Kristen memiliki banyak kesamaan, tetapi apakah kesamaan itu sudah ada sejak zaman Perjanjian Baru? Atau, mungkin, Gereja pertama kali mengembangkan teologi Maria selama tiga abad pertama, yang pada gilirannya menghasilkan teologi Yahudi yang kemudian menanggapinya dengan alternatif Rachel. Jawabannya adalah ya. Ini berarti bahwa ada baiknya mengetahui tentang kemungkinan hubungan antara Rachel, ibu leluhur Israel, dan Maria, ibu leluhur Gereja, tetapi untuk saat ini, itu harus tetap hanya sebagai hubungan yang indah tetapi hanya kemungkinan.
Hal yang sama berlaku bagi pandangan Flusser dan Neusner. Mereka dengan tepat melihat paralel yang indah antara Rahel—ibu besar Israel dan pendoa syafaat—dan Maria, ibu Yesus dan pendoa syafaat bagi umat percaya dalam tradisi Katolik. Tidak diragukan bahwa Rahel Yahudi dan Maria Kristen memiliki banyak kesamaan. Namun, pertanyaannya: apakah kesamaan itu sudah ada sejak zaman Perjanjian Baru? Ataukah teologi Maria berkembang lebih dahulu dalam Gereja, dan kemudian direspons oleh teologi Yahudi dengan konsep Rahel?
Jawabannya: sangat mungkin demikian.
Karena itu, penting untuk mengenali kemungkinan hubungan antara Rahel, ibu Israel, dan Maria, ibu Gereja. Namun untuk saat ini, hubungan tersebut sebaiknya dipandang sebagai kemungkinan yang indah—bukan sebagai kesimpulan yang pasti.
Comments (0)
No comments yet.